“Banjir Lagi Banjir” – TIRAS.id

  • Bagikan


 

“Banjir Lagi Banjir”

Oleh: Fathonie Abdullah
(Journalist-Researcher)

Alam telah membuat keseimbangannya: laut, danau, air terjun, sumur, sungai; curah hujan dan/atau mencairnya salju gunung es di kutub. Lalu, peradaban awal manusia yang telah belajar dari pengalaman panjang fenomena alam, mewariskan secara enkulturasi teknologi sederhana ‘rumah punggung; atau kalau belum sanggup, bisa mengungsi, di evakuasi, dan migrasi; yang nantinya, jika sudah kondusif, bisa kembali lagi ke ‘kampung halaman’.

Di zaman modern, pakar geologi, teknik sipil arsitek, insinyur, dan pakar lingkungan hidup sibuk bekerja dengan pikiran masing-masing tanpa mau bersinergi. Karena, yang punya ‘kuasa uang’, tak cukup sabar lama menunggu dan/atau maunya uang investasi usaha cepat berputar dan kembali lagi dengan keuntungan berlipat-lipat tanpa berpikir panjang soal risiko kerusakan dan keseimbangan alam plus dampaknya.

Apa yang lantas terjadi? Berita peristiwa banjir di mancanegara selalu ada tiap tahun secara lintas generasi ribuan tahun. Yang berbeda hanya lokasinya, jumlah korbannya, dan estimasi besaran kerugiannya, dll. Hal tersebut berulang kembali sepekan terakhir ini di sebagian Eropa (Swedia, Jerman, dll), India, dan RRC (Yang terparah).

Lalu, apa respon dan sikap kita? Hanya menunjukkan sikap simpatik dan berempati?
Memberi bantuan? Ikut menolong atau hanya diam menonton? Berikut ini beberapa kutipan yang sudah dilansir media internasional:
***
Kota Lanzhou, Provinsi Gansu, China, Selasa (21/7/2020);
Sejak 16 Juli, lebih dari 1,24 juta orang di 89 wilayah kota dan distrik telah terdampak curah hujan yang sangat deras; dan sekitar 164.710 orang telah direlokasi ke tempat yang aman. Bencana alam tersebut telah merusak 75.000 hektare tanaman, mengakibatkan kerugian ekonomi langsung sekitar 542,3 juta yuan (1 yuan = Rp 2.249). Hujan lebat itu telah membuat permukaan air melampaui tanda ketinggian air di musim banjir di sembilan waduk besar dan 40 waduk berukuran sedang di Henan. Air banjir juga meluapi beberapa sungai.

Hujan disertai badai itu mengakibatkan banjir parah di ibu kota provinsi, Zhengzhou, dengan kereta bawah tanah berhenti beroperasi, dan transportasi kereta api, jalan raya serta udara sangat terdampak. (Sumber:
Liputan6.com)
***
Rekor curah hujan yang tak ter estimasi waktunya di pusat kota China telah mengakibatkan banjir bandang dan menyebabkan kerusakan sejumlah gedung, ‘subway underground’, tanggul sungai dan waduk jebol.

‘Beijing’ (‘Pusat Pemerintahan RRC) telah berupaya keras mengelola risiko dan dampak banjir yang berulang secara tahunan dan tiap kali terjadi telah membuat ratusan orang meninggal dan ribuan orang lainnya mengungsi ke lokasi yang lebih aman yang telah diatur Pemerintah.

“Around 30 billion cubic metres of floodwater were intercepted last year by dams and reservoirs in Asia’s longest river, the Yangtze, mitigating flooding downstream in areas including Shanghai,” China’s Emergency Management Ministry said. (Sumber:
Laporan:
https://amp-rfi-fr.cdn.ampproject.org/v/s/amp.rfi.fr/en/why-is-china-facing-record-floods?amp_js_v=a6&amp_gsa=1&usqp=mq331AQKKAFQArABIIACAw%3D%3D#aoh=16269382363262&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&amp_tf=Dari%20%251%24s&ampshare=https%3A%2F%2Fwww.rfi.fr%2Fen%2Fwhy-is-china-facing-record-floods).
***
Eleksi (pilpres) pada September 2021 mendatang di Jerman akan berdampak pada Angela Merkel yang telah 16 tahun berkuasa, apakah bisa dipilih kembali karena peristiwa banjir tak terduga telah terjadi di Jerman tanpa sempat diatasi secara baik.

‘Flood warning systems’ sebenarnya sudah terkirim beberapa hari sebelum hujan  lebat terjadi. Namun, bagaimanapun, para petugas dan para pengelola perumahan tak cukup waktu dan daya serta tak mengira banjir akan terjadi sebesar itu.

Armin Schuster, Head of the Federal Office for Civil Protection mengatakan, “Infrastruktur Peringatan Tanda Bahaya bukanlah masalah kita; tapi efektivitas kerja pihak otoritas dan ‘the population reacted to these warnings’…” dan menambahkan, “Kita telah kirim 150 ‘warning’ via ‘apps’ dan media; namun secara kasuistik, tak mungkin memprediksi setengah jam ke depan pilihan tempat-tempat yang sebaiknya ‘be hit hardest’…. “

Memang, banyak faktor yang menyebabkan banjir. Namun,
pemanasan atmosfir yang menyebabkan ‘climate change’ yang membuat curah hujan begitu ekstrim.

Dan, ‘on the ground’ yang paling berisiko terdampak banjir bandang tak mudah ditanggulangi sebagai ‘weather improve’. Karena itu pihak Pemerintah Jerman telah mempertimbangkan bantuan sosial dan paket bantuan sekitar €400m (£344m; $470m). (Sumber:
Laporan:
https://www-bbc-com.cdn.ampproject.org/v/s/www.bbc.com/news/world-europe-57890650.amp?amp_js_v=a6&amp_gsa=1&usqp=mq331AQKKAFQArABIIACAw%3D%3D#aoh=16269384855162&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&amp_tf=Dari%20%251%24s&ampshare=https%3A%2F%2Fwww.bbc.com%2Fnews%2Fworld-europe-57890650).
*****



Sumber Berita

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *