Connect with us

HEALTHNEWS

Penyebab, Gejala, dan Cara Mengobati Diare

Published

on


Sebagian besar dari Anda tentu pernah mengalami diare, bukan? Ya, hampir setiap orang pernah mengalami paling tidak satu episode diare dalam hidupnya. Tidak hanya itu, penyebab diare juga beragam. 

Ada pun diare diartikan sebagai buang air besar (BAB) yang lembek atau berair sebanyak 3 kali atau lebih dalam sehari. Rata-rata, orang dewasa mengalami 4 kali episode diare dalam setahun. 

Diare pada umumnya hanya berlangsung selama beberapa hari dan menghilang dengan sendirinya tanpa pengobatan khusus. Namun, pada sebagian kasus, diare bisa tak kunjung sembuh sampai penyebabnya diketahui dan diobati.

Penyebab Diare, Gejala, dan Cara Mengobatinya

Berdasarkan durasi penyakit dan gejala yang muncul, diare digolongkan menjadi diare akut dan kronis. Diare disebut akut bila berlangsung kurang dari 2 minggu dan disebut kronis bila berlangsung selama 4 minggu atau lebih.

Gejala diare dapat bervariasi dan tergantung pada penyebab. Anda mungkin mengalami salah satu atau lebih dari gejala-gejala berikut:

  • BAB lembek atau berair
  • Kram perut
  • Nyeri perut
  • Demam > 38°C
  • Tinja berdarah
  • Tinja berlendir
  • Kembung
  • Mual
  • Keinginan untuk BAB yang tidak bisa ditahan

penyebab diare

Dari luar, penderita diare dapat terlihat sakit ringan atau berat. Yang sakit ringan, biasanya hanya mengalami diare beberapa kali (<8 kali) per hari dan tidak tampak gejala-gejala lainnya. Sedangkan yang sakit berat, dapat mengalami diare hingga lebih dari 20 kali per hari, yang terjadi setiap 20-30 menit. Pada kondisi ini, banyak air dan garam yang hilang dari tubuh sehingga rentan terjadi dehidrasi.

Gejala dehidrasi dapat berupa rasa lemas, mulut kering, detak jantung cepat, sakit kepala atau rasa melayang, kehausan, jarang buang air kecil (BAK), urin sedikit dan berwarna pekat. Hubungi dokter sesegera mungkin bila diare menyebabkan dehidrasi.

Artikel terkait: Obat Diare Alami untuk Bayi, Cara Mudah Hentikan Diare pada Si Kecil

Diare bukanlah penyakit, melainkan gejala dari suatu penyakit. Oleh sebab itu, perlu ditentukan apa penyebabnya agar pengobatannya tepat sasaran.

Untuk menentukan penyebab diare, dokter akan melakukan wawancara mendalam dan pemeriksaan fisik. Kadang-kadang, diperlukan pula pemeriksaan urin dan darah. Pemeriksaan tambahan lain yang mungkin dilakukan yakni:

  • Pemeriksaan untuk menentukan apakah alergi atau intoleransi makanan adalah penyebab diare
  • Radiologi, untuk memeriksa peradangan dan kelainan anatomi usus
  • Pemeriksaan dan kultur tinja untuk melihat adanya bakteri, jamur, parasit atau kuman lain
  • Kolonoskopi untuk memeriksa usus besar
  • Sigmoidoskopi untuk memeriksa rektum dan bagian bawah usus besar

Kolonoskopi dan sigmoidoskopi sangat membantu pada individu yang mengalami diare berat atau kronis.

Beberapa Faktor Penyebab

penyebab diare

Pada kasus yang akut, diare dapat disebabkan oleh: 

  • Keracunan akibat mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri atau parasit. Gejala infeksi biasanya mulai dirasakan 12 jam hingga 4 hari setelah paparan dan membaik dalam waktu 3-7 hari. 
  • Intoleransi makanan, seperti intoleransi laktosa. Laktosa adalah gula yang ada di dalam susu dan produk olahannya. Individu yang sulit mencerna laktosa dapat mengalami diare setelah mengonsumsi produk-produk ini. 
  • Alergi makanan.
  • Infeksi virus. Virus penyebab diare mencakup virus norwalk, sitomegalovirus, dan virus hepatitis. Virus yang menyebabkan COVID-19 juga dapat menyebabkan diare dan keluhan pencernaan lainnya seperti mual dan muntah. Pada anak balita, Rotavirus merupakan penyebab tersering diare akut.
  • Obat-obatan. Antibiotik dapat menyebabkan diare karena penggunaannya akan mematikan bakteri baik dan jahat di dalam usus. Selanjutnya, ini mengganggu keseimbangan alami flora normal di dalam usus. Obat-obatan lain yang juga menyebabkan diare yakni obat kanker dan obat maag antasid yang mengandung magnesium.
  • Fruktosa. Fruktosa adalah gula yang secara alami ditemukan pada buah dan madu. Gula ini juga kadang-kadang ditambahkan sebagai pemanis dalam minuman kemasan. Individu yang sulit mencerna fruktosa dapat mengalami diare setelah mengonsumsinya.
  • Pemanis buatan. Sorbitol dan manitol, yang kerap ditemukan dalam permen karet dan produk bebas gula, dapat menyebabkan diare pada sebagian individu sehat. 
  • Operasi kandung empedu dan lambung. Pengangkatan kandung empedu dan operasi pada lambung kadang-kadang dapat menyebabkan diare. 

Sedangkan diare kronis, disebabkan oleh penyakit yang lebih serius seperti penyakit Crohn, kolitis ulseratif, penyakit Celiac, dan sindrom iritasi usus.

Cara Mengobati Diare

Prinsip pengobatan diare mencakup:

1. Mengganti Cairan dan Garam yang Hilang

Penyakit Diare – Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati

Jenis cairan dapat berupa air minum, jus, air tajin atau air kaldu. Untuk diare ringan-sedang, cairan pengganti harus mengandung air, gula, dan garam. Larutan gula garam seperti Oralit, yang mengandung glukosa dan natrium, adalah yang terbaik. Hindari minuman berkafein dan yang mengandung alkohol.

2. Perhatikan Apa yang Dimakan

Penyakit Diare – Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati

Kecukupan nutrisi amat penting selama mengalami diare. Konsumsi karbohidrat seperti pati dan serealia rebus (kentang, mie, nasi, gandum, dan oat) dengan garam sangat dianjurkan pada diare yang berair. Kue kering tanpa rasa (plain crackers), pisang, sup dan sayuran rebus juga bisa dikonsumsi.

Bila gejala berangsur membaik, tambahkan makanan semipadat dan rendah serat. Anda bisa mengonsumsi roti panggang, telur, nasi atau ayam. Selama diare, hindari makanan yang berasal dari produk olahan susu, makanan berlemak, tinggi serat, atau yang berbumbu tajam.

3. Obat-obatan

penyebab diare

Obat antidiare dapat digunakan bila tidak ada demam (suhu tubuh > 38°C) dan tinja tidak berdarah atau berlendir. Obat-obatan ini tidak menyembukan penyebab diare, tetapi membantu mengurangi frekuensinya:

  • Loperamide. Obat ini dapat diperoleh tanpa resep dokter. Dosis pertama 2 tablet (4 mg), diikuti 1 tablet (2 mg) setiap setelah BAB. Dosis maksimum 16 mg per hari. Hindari menggunakan dosis lebih besar dari yang tertulis pada petunjuk penggunaan kecuali dianjurkan oleh dokter. 
  • Diphenoxylate-atropine. Obat ini hanya dapat diperoleh dengan resep dokter. Fungsinya mirip dengan loperamide, tetapi efek sampingnya lebih mengganggu.
  • Bismuth subsalicylate. Obat ini tidak seefektif loperamide tetapi dapat digunakan bila diare diserta demam atau tinja yang berdarah. Meski demikian, hindari penggunaannya pada ibu hamil. Dosis obat ini adalah 30 mL atau 2 tablet setiap 30 menit dengan maksimum 8 dosis (16 tablet).

4. Konsumsi Probiotik

Penyakit Diare – Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati

Probiotik mengandung bakteri baik yang dapat membantu mengembalikan keseimbangan flora normal usus. Probiotik tersedia dalam bentuk tablet/kapsul atau cairan dan juga ditambahkan pada makanan seperti yogurt.

5. Antibiotik

Penyakit Diare – Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati

Penggunaan antibiotik tidak diperlukan pada sebagian besar kasus diare akut dan justru dapat memperburuk diare bila tidak tepat pemakaiannya. Antibiotik umumnya baru direkomendasikan bila diare terjadi lebih dari 8 kali sehari, mengalami dehidrasi, gejala menetap hingga lebih dari satu minggu, memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, dan pada individu yang membutuhkan rawat inap.

6. Mengobati Penyakit yang Mendasari

Penyakit Diare – Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati

Beberapa penyakit yang mendasari seperti pada diare yang disebabkan oleh penyakit radang usus atau gangguan autoimun.

Artikel terkait: Coba konsumsi 4 buah ini saat diare, catat ya Parents!

Selama diare, penting untuk melihat status hidrasi (kecukupan cairan) dengan mengamati warna urin dan frekuensi BAK. Bila BAK jarang atau urin pekat dan berwarna kuning gelap, artinya Anda perlu minum lebih banyak. Urin normal berwarna kuning muda atau hampir bening dan frekuensi BAK normalnya setiap 3-5 jam.

Pada dasarnya, sebagian besar kasus diare dapat ditanggulangi di rumah. Namun sebaiknya, segera kunjungi dokter apabila diare berlangsung lebih dari tiga hari, mengalami dehidrasi, tedapat nyeri perut atau nyeri pada dubur yang berat, BAB berdarah atau kehitaman, serta mengalami demam di atas 39 derajat celcius. 

Artikel terkait: Disentri: Gejala, Penyebab, Cara Pengobatan yang Sebabkan Diare Berdarah & Berlendir

Itulah beberapa penyebab, gejala, dan pengobatan penyakit diare. Semoga bermanfaat, Parents!

***

Baca juga: 

9 Keluhan Tersering Kala Hamil 3 Bulan, Bunda Pernah Merasakannya?

Garam Himalaya untuk MPASI Bayi, Benarkah Lebih Sehat?

Folat Asam Folat (Vitamin B9) – Manfaat, Dosis, dan Efek Samping

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.



Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HEALTHNEWS

Sakit Kepala Tegang – Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati

Published

on

By


Sakit Kepala Tegang – Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati | HealthNews.id – HealthNews



Sumber Berita

Continue Reading

HEALTHNEWS

8 Obat Diare yang Efektif dan Bisa Dibeli di Apotik

Published

on

By


Diare adalah suatu kondisi di mana buang air besar berlangsung sering dengan konsistensi feses lembek atau cair. Tentunya, kondisi ini bisa mengganggu apabila tidak diobati segera. Untuk mencegahnya, ada beberapa obat diare yang bisa Anda beli di apotik. 

Lalu, jenis obat-obatan seperti apa yang dapat membantu mengatasi masalah ini? Berikut penjelasan selengkapnya, Parents!

Artikel terkait: Penyakit Diare – Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati

Daftar Obat Diare yang Efektif dan Bisa Dibeli di Apotik

Umumnya, sebagian besar kasus diare hanya berlangsung beberapa hari dan dapat hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan tertentu. Namun, penggunaan obat-obatan dapat membuat Anda merasa lebih nyaman. Apalagi, bila diare disertai dengan nyeri atau kram perut.

Obat yang tergolong antidiare memiliki beberapa cara kerja. Ada yang berfungsi untuk memperlambat pergerakan usus sehingga frekuensi diare berkurang, ada pula yang membuat feses menjadi lebih padat. Biasanya, obat-obatan ini digunakan untuk diare akut (kurang dari 1 minggu) yang tidak mengancam nyawa.

Selengkapnya, berikut adalah daftar obat diare yang dijual di apotik dan bisa dibeli secara bebas:

1. Karbon aktif (activated charcoal)

8 Obat Diare yang Efektif dan Bisa Dibeli di Apotik, Apa Saja?

Sebuah kajian studi di tahun 2017 mendapati bahwa penggunaan karbon aktif untuk diare dapat menangkap racun, bakteri, dan obat-obatan pemicu diare pada permukaan karbon yang berpori dan bertekstur sehingga tidak diserap ke dalam usus. Meski bisa mengurangi diare, penggunaan karbon aktif juga dapat mencegah tubuh menyerap obat-obatan dan zat-zat gizi yang penting.

2. Kaolin pectin

obat diare

Merupakan kombinasi yang berfungsi menangkap dan membawa keluar bakteri, racun, dan zat penyebab diare dari dalam usus. Kaolin pectin juga akan menyerap kelebihan air di usus sehingga konsistensi feses memadat. Obat ini banyak dimanfaatkan untuk mengobati diare akibat kolera.

3. Attapulgite

obat diare

Attapulgite bekerja dengan memperlambat kerja usus besar agar dapat menyerap lebih banyak air. Tujuannya, agar tekstur feses menjadi lebih padat. Obat ini juga biasanya meredakan nyeri perut pada diare. Meski demikian, penggunaannya bisa memicu sembelit setelah diare mereda.

4. Bismuth subsalicylate

8 Obat Diare yang Efektif dan Bisa Dibeli di Apotik, Apa Saja?

Bismuth subsalicylate bekerja sebagai antidiare dan antiradang. Obat ini menurunkan frekuensi diare dengan mengurangi jumlah air di dalam usus. Efek samping yang sering yakni sembelit, feses menjadi kehitaman dan lidah kehitaman. Penggunaan bismuth subsalicylate dalam dosisi yang berlebih dapat berbahaya, oleh sebab itu hanya gunakan sesuai yang dianjurkan.

5. Loperamide 

8 Obat Diare yang Efektif dan Bisa Dibeli di Apotik, Apa Saja?

Obat ini mampu menurunkan kecepatan dan jumlah kontraksi usus, sehingga berefek memperlambat atau menjarangkan frekuensi diare. Efek sampingnya yakni nyeri perut, mulut kering, rasa kantuk, melayang, sembelit, mual dan muntah. Individu yang mengalami efek samping loperamide biasanya tidak mampu mengemudikan kendaraan atau melakukan aktivitas lain yang membutuhkan konsentrasi.

Artikel terkait: Obat Ambroxol – Manfaat, Dosis, dan Efek Samping

6. Oralit

obat diare

Ini merupakan larutan gula garam yang tersedia dalam bentuk serbuk. Oralit sebetulnya bukan obat, tapi dipakai untuk menggantikan kehilangan cairan dan elektrolit akibat diare. 

Sebelum digunakan, larutkan terlebih dulu dengan air matang. Minum oralit atau cairan sejenis yang mengandung elektrolit lebih baik untuk mengatasi diare ketimbang minum air putih saja.

7. Suplemen Zinc

obat diare

Suplemen ini berperan dalam proses penyembuhan usus kala diare dan memperkuat sistem kekebalan tubuh. Jenis suplemen ini biasanya tersedia dalam bentuk tablet dan sirup. Dosisnya untuk diare akut adalah sebagai berikut:

  • Dewasa: 10-20 mg sekali sehari
  • Anak-anak usia ≥ 6 bulan: 20 mg per hari
  • Anak-anak usia <6 bulan: 10 mg per hari

Untuk semua kelompok usia ini, durasi penggunaan suplemen zinc selama 10-14 hari.

8. Suplemen probiotik

8 Obat Diare yang Efektif dan Bisa Dibeli di Apotik, Apa Saja?

Probiotik adalah koloni bakteri baik yang membantu melawan bakteri penyebab diare dan peradangan usus. Probiotik juga berfungsi menyeimbangkan jumlah dan jenis bakteri yang secara alami hidup di dalam usus agar sistem pencernaan kembali lancar.

Suplemen ini kerap digunakan pada individu dewasa maupun anak-anak yang mengalami diare akibat infeksi bakteri. Suplemen probiotik tersedia dalam bentuk kapsul, tablet, bubuk, dan drops

Komposisi probiotik bisa berbeda-beda untuk tiap merek dagang. Untuk itu, diskusikan dengan dokter probiotik mana yang paling baik untuk kasus diare Anda.

Artikel terkait: Perlukah Anak Anda Mengonsumsi Tambahan Suplemen Vitamin?

Obat Antidiare Tidak Mengobati Penyebab

8 Obat Diare yang Efektif dan Bisa Dibeli di Apotik, Apa Saja?

Secara umum ada beberapa kondisi yang menjadi faktor penyebab diare. Beberapa penyebab yang tersering, yaitu:

  • Keracunan makanan
  • Infeksi virus, bakteri atau parasit
  • Obat-obatan seperti antibiotik
  • Intoleransi laktosa
  • Konsumsi fruktosa atau pemanis buatan
  • Gangguan saluran cerna seperti penyakit Celiac atau sindrom iritasi usus

Nah, perlu diketahui, mengonsumsi obat antidiare yang sudah dijelaskan sebelumnya tidak akan mengobati penyebab yang mendasarinya. Obat-obat ini hanya mengurangi ketidaknyaman yang terjadi akibat nyeri perut atau sering buang air besar.

Selain itu, hindari penggunaan obat-obatan ini bila diare disertai dengan demam, penyakit berat, nyeri perut hebat, serta bila feses berdarah atau berlendir. Pada kasus-kasus seperti ini, penggunaan obat-obat tersebut justru dapat memperberat diare dan penyakit yang mendasarinya. Sebaiknya segera konsultasikan ke dokter bila Anda mengalami diare yang seperti ini.

Demikian pula, bila frekuensi diare terlalu sering—lebih dari 10 kali per hari—atau berlangsung lebih dari satu minggu. Mungkin saja ada infeksi yang membutuhkan pengobatan dengan antibiotik atau pemeriksaan lanjut untuk mencari penyebab pasti dari diare yang dialami.

Itulah informasi mengenai obat diare yang efektif dan bisa dibeli di apotik. Semoga bermanfaat!

***

Baca juga:

Garam Himalaya untuk MPASI Bayi, Benarkah Lebih Sehat?

Mungkinkah Terinfeksi COVID-19 Setelah Divaksin? 4 Penyebab Ini Perlu Dipahami

10 Keluhan Ibu Hamil 5 Bulan yang Sering Terjadi, Bunda Mengalaminya?

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.



Sumber Berita

Continue Reading

HEALTHNEWS

8 Obat Diare yang Efektif dan Bisa Dibeli di Apotik

Published

on

By


Diare adalah suatu kondisi di mana buang air besar berlangsung sering dengan konsistensi feses lembek atau cair. Tentunya, kondisi ini bisa mengganggu apabila tidak diobati segera. Untuk mencegahnya, ada beberapa obat diare yang bisa Anda beli di apotik. 

Lalu, jenis obat-obatan seperti apa yang dapat membantu mengatasi masalah ini? Berikut penjelasan selengkapnya, Parents!

Artikel terkait: Penyakit Diare – Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati

Daftar Obat Diare yang Efektif dan Bisa Dibeli di Apotik

Umumnya, sebagian besar kasus diare hanya berlangsung beberapa hari dan dapat hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan tertentu. Namun, penggunaan obat-obatan dapat membuat Anda merasa lebih nyaman. Apalagi, bila diare disertai dengan nyeri atau kram perut.

Obat yang tergolong antidiare memiliki beberapa cara kerja. Ada yang berfungsi untuk memperlambat pergerakan usus sehingga frekuensi diare berkurang, ada pula yang membuat feses menjadi lebih padat. Biasanya, obat-obatan ini digunakan untuk diare akut (kurang dari 1 minggu) yang tidak mengancam nyawa.

Selengkapnya, berikut adalah daftar obat diare yang dijual di apotik dan bisa dibeli secara bebas:

1. Karbon aktif (activated charcoal)

8 Obat Diare yang Efektif dan Bisa Dibeli di Apotik, Apa Saja?

Sebuah kajian studi di tahun 2017 mendapati bahwa penggunaan karbon aktif untuk diare dapat menangkap racun, bakteri, dan obat-obatan pemicu diare pada permukaan karbon yang berpori dan bertekstur sehingga tidak diserap ke dalam usus. Meski bisa mengurangi diare, penggunaan karbon aktif juga dapat mencegah tubuh menyerap obat-obatan dan zat-zat gizi yang penting.

2. Kaolin pectin

obat diare

Merupakan kombinasi yang berfungsi menangkap dan membawa keluar bakteri, racun, dan zat penyebab diare dari dalam usus. Kaolin pectin juga akan menyerap kelebihan air di usus sehingga konsistensi feses memadat. Obat ini banyak dimanfaatkan untuk mengobati diare akibat kolera.

3. Attapulgite

obat diare

Attapulgite bekerja dengan memperlambat kerja usus besar agar dapat menyerap lebih banyak air. Tujuannya, agar tekstur feses menjadi lebih padat. Obat ini juga biasanya meredakan nyeri perut pada diare. Meski demikian, penggunaannya bisa memicu sembelit setelah diare mereda.

4. Bismuth subsalicylate

8 Obat Diare yang Efektif dan Bisa Dibeli di Apotik, Apa Saja?

Bismuth subsalicylate bekerja sebagai antidiare dan antiradang. Obat ini menurunkan frekuensi diare dengan mengurangi jumlah air di dalam usus. Efek samping yang sering yakni sembelit, feses menjadi kehitaman dan lidah kehitaman. Penggunaan bismuth subsalicylate dalam dosisi yang berlebih dapat berbahaya, oleh sebab itu hanya gunakan sesuai yang dianjurkan.

5. Loperamide 

8 Obat Diare yang Efektif dan Bisa Dibeli di Apotik, Apa Saja?

Obat ini mampu menurunkan kecepatan dan jumlah kontraksi usus, sehingga berefek memperlambat atau menjarangkan frekuensi diare. Efek sampingnya yakni nyeri perut, mulut kering, rasa kantuk, melayang, sembelit, mual dan muntah. Individu yang mengalami efek samping loperamide biasanya tidak mampu mengemudikan kendaraan atau melakukan aktivitas lain yang membutuhkan konsentrasi.

Artikel terkait: Obat Ambroxol – Manfaat, Dosis, dan Efek Samping

6. Oralit

obat diare

Ini merupakan larutan gula garam yang tersedia dalam bentuk serbuk. Oralit sebetulnya bukan obat, tapi dipakai untuk menggantikan kehilangan cairan dan elektrolit akibat diare. 

Sebelum digunakan, larutkan terlebih dulu dengan air matang. Minum oralit atau cairan sejenis yang mengandung elektrolit lebih baik untuk mengatasi diare ketimbang minum air putih saja.

7. Suplemen Zinc

obat diare

Suplemen ini berperan dalam proses penyembuhan usus kala diare dan memperkuat sistem kekebalan tubuh. Jenis suplemen ini biasanya tersedia dalam bentuk tablet dan sirup. Dosisnya untuk diare akut adalah sebagai berikut:

  • Dewasa: 10-20 mg sekali sehari
  • Anak-anak usia ≥ 6 bulan: 20 mg per hari
  • Anak-anak usia <6 bulan: 10 mg per hari

Untuk semua kelompok usia ini, durasi penggunaan suplemen zinc selama 10-14 hari.

8. Suplemen probiotik

8 Obat Diare yang Efektif dan Bisa Dibeli di Apotik, Apa Saja?

Probiotik adalah koloni bakteri baik yang membantu melawan bakteri penyebab diare dan peradangan usus. Probiotik juga berfungsi menyeimbangkan jumlah dan jenis bakteri yang secara alami hidup di dalam usus agar sistem pencernaan kembali lancar.

Suplemen ini kerap digunakan pada individu dewasa maupun anak-anak yang mengalami diare akibat infeksi bakteri. Suplemen probiotik tersedia dalam bentuk kapsul, tablet, bubuk, dan drops

Komposisi probiotik bisa berbeda-beda untuk tiap merek dagang. Untuk itu, diskusikan dengan dokter probiotik mana yang paling baik untuk kasus diare Anda.

Artikel terkait: Perlukah Anak Anda Mengonsumsi Tambahan Suplemen Vitamin?

Obat Antidiare Tidak Mengobati Penyebab

8 Obat Diare yang Efektif dan Bisa Dibeli di Apotik, Apa Saja?

Secara umum ada beberapa kondisi yang menjadi faktor penyebab diare. Beberapa penyebab yang tersering, yaitu:

  • Keracunan makanan
  • Infeksi virus, bakteri atau parasit
  • Obat-obatan seperti antibiotik
  • Intoleransi laktosa
  • Konsumsi fruktosa atau pemanis buatan
  • Gangguan saluran cerna seperti penyakit Celiac atau sindrom iritasi usus

Nah, perlu diketahui, mengonsumsi obat antidiare yang sudah dijelaskan sebelumnya tidak akan mengobati penyebab yang mendasarinya. Obat-obat ini hanya mengurangi ketidaknyaman yang terjadi akibat nyeri perut atau sering buang air besar.

Selain itu, hindari penggunaan obat-obatan ini bila diare disertai dengan demam, penyakit berat, nyeri perut hebat, serta bila feses berdarah atau berlendir. Pada kasus-kasus seperti ini, penggunaan obat-obat tersebut justru dapat memperberat diare dan penyakit yang mendasarinya. Sebaiknya segera konsultasikan ke dokter bila Anda mengalami diare yang seperti ini.

Demikian pula, bila frekuensi diare terlalu sering—lebih dari 10 kali per hari—atau berlangsung lebih dari satu minggu. Mungkin saja ada infeksi yang membutuhkan pengobatan dengan antibiotik atau pemeriksaan lanjut untuk mencari penyebab pasti dari diare yang dialami.

Itulah informasi mengenai obat diare yang efektif dan bisa dibeli di apotik. Semoga bermanfaat!

***

Baca juga:

Garam Himalaya untuk MPASI Bayi, Benarkah Lebih Sehat?

Mungkinkah Terinfeksi COVID-19 Setelah Divaksin? 4 Penyebab Ini Perlu Dipahami

10 Keluhan Ibu Hamil 5 Bulan yang Sering Terjadi, Bunda Mengalaminya?

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.



Sumber Berita

Continue Reading
Advertisement
  • Sebuah galat telah terjadi, yang kemungkinan berarti umpan tersebut sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Trending