Connect with us
google.com, pub-3471700597902966, DIRECT, f08c47fec0942fa0

MEDIA TERKEMUKA

Smartfren: Penggunaan 5G untuk Consumer dan Enterprise

Published

on


Jakarta, temposiana.com – Teknologi seluler generasi kelima 5G merupakan lompatan besar selanjutnya dalam kecepatan untuk perangkat nirkabel. Hadirnya 5G bertujuan untuk memberikan kecepatan data sebesar 10 hingga 100 kali lebih cepat dari jaringan 4G yang ada saat ini. Pengguna 5G dapat berharap bahwa kecepatan unduhan pada gigabit per detik (Gb/s), jauh lebih besar dari puluhan megabit per detik (Mb/s) kecepatan 4G.

Shurish Subbramaniam, Chief Technology Officer Smartfren, menyampaikan bahwa ada tiga poin penting dalam implementasi 5G di Indonesia. Yakni spektrum, ekosistem, dan use case atau kasus penggunaaan layanan 5G.

Seperti diketahui, 5G tidak hanya digunakan untuk pengguna seluler, namun juga dapat mendukung berbagai sektor industri seperti manufaktur, kesehatan hingga agribisnis. Era 5G memang digadang-gadang sebagai enabler industri 4.0.

Advertisement

Menurut Shurish, kehadiran 5G akan membuka potensi Internet of Things (IoT) dengan mengaktifkan lebih banyak koneksi sekaligus (hingga satu juta per kilometer persegi) dengan kebutuhan daya sangat rendah.

“Konsumen dapat melakukan banyak hal melalui 4G saat ini. Namun dengan 5G, kita perlu memastikan use case dengan latensi rendah untuk experience yang lebih baik, misalnya untuk virtual reality, konten-konten game dengan speed tinggi, dan video high resolution,” ujar Shurish dalam acara Indonesia 5G Conference dengan tema ‘Exploring 5G Opportunities In Diverse Industries’, pada Selasa 26 Oktober 2021.

“Sementara untuk enterprise, 5G bisa meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Opportunity 5G di sektor enterprise lebih besar untuk mendorong transformasi digital,” imbuhnya.

Contohnya di bidang manufaktur. Di bidang ini, 5G dapat dimanfaatkan untuk koneksi ke robot pekerja, sensor industri, kamera pengawas hingga ke edge computing. Hadirnya otomasi ditambah teknologi Artificial Intelligence (AI) di sektor industri Indonesia tentu saja dapat memberikan potensi besar untuk melipatgandakan produktivitas tenaga kerja.

Sebelumnya, Smartfren telah melakukan uji coba 5G dengan fokus ke ranah industri. Uji coba ini dilakukan di jalur logistik pengiriman barang PT Sinarmas Agro Resources and Technology, di Marunda, Bekasi. Uji coba itu dilakukan dengan menerbangkan drone untuk mengecek jalur logistik yang bermasalah. Dari uji coba tersebut, Smartfren mencatat kecepatan internet 8,7Gbps.

Advertisement

Selain itu, 5G diprediksi juga akan sangat berguna untuk perangkat medis dan sistem keselamatan kendaraan otonom. Latensi yang sangat minim akan membantu respons secepat mungkin di kondisi-kondisi kritis.

“Di enterprise, banyak kasus penggunaan yang membutuhkan benar-benar low latency. Misalnya untuk pergerakan robot, harus akurat. Tidak boleh ada delay,” tutur Shurish.

Dengan mengadopsi teknologi 5G nanti, solusi-solusi B2B yang sudah berjalan ini akan makin meningkat kemampuannya.

Shurish berharap keseluruhan ekosistem teknologi 5G dapat segera benar-benar bisa terbentuk di Indonesia, seperti ketersediaan spektrum 5G, kesiapan ekosistem, kesiapan use case, serta kesiapan perangkat pengguna yang terjangkau oleh pelanggan.

Lebih lanjut, Smartfren melalui anak usahanya, PT Smart Telecom (Smartel) pun telah mengakusisi saham milik penyelenggara infrastruktur jaringan serat optik telekomunikasi, PT Mora Telematika Indonesia (Moratelindo).

Advertisement

Aksi penyertaan modal ini merupakan langkah lanjutan dari Smartfren untuk memuluskan niatnya menggelar layanan 5G di Indonesia.

Tiga operator seluler Indonesia sudah menggelar jaringan 5G untuk komersial sejak pertengahan tahun ini. Masing-masing menggunakan spektrum frekuensi radio 2,3GHz (Telkomsel) dan 1,8GHz (Indosat Ooredoo dan XL Axiata).

Shurish menyampaikan, Smartfren tancap gas siap menyusul tiga operator lainnya untuk menggelar layanan 5G secara komersial di Indonesia. Perusahaan telah mengajukan dokumen sebagai syarat pengajuan Uji Laik Operasi (ULO) 5G ke Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Hasilnya akan diterima pada akhir tahun 2021 ini.

“Untuk Smartfren, existing spectrum ya kami harus ikuti proses ULO untuk mendapatkan sertifikat jaringan 5G. Dan kami akan mulai mengembangkan berdasarkan new cases sesuai dengan spektrum yang tersedia dan yang baru akan dihadirkan di tahun depan,” ungkapnya.



Sumber Berita
Advertisement

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *