TEMPOSIANA.com — “Bangsa Ini Sedang Tidak Baik-Baik Saja, Tapi Kita Tidak Boleh Kehilangan Harapan”
Wawancara Temposiana.com dengan Stephanus Slamet Budi Raharjo
“Ada orang, ada masanya. Setiap masa, ada orangnya.”
Kalimat itu beberapa kali diulang oleh Stephanus Slamet Budi Raharjo dalam percakapan panjang bersama Temposiana.com.
Di ruang kerjanya yang dipenuhi buku, dokumen, dan aroma kopi yang mulai dingin, lelaki yang akrab dipanggil Jojo itu berbicara tenang—tetapi tajam.
Sebagai jurnalis senior yang lama dikenal berintegritas, keras terhadap penyimpangan, dan kerap disebut sebagai “justice warrior”, ia melihat Indonesia sedang menghadapi masa yang tidak mudah.
Kepercayaan publik melemah, keteladanan makin langka, dan kegaduhan sering kali lebih dihargai daripada substansi.
Dan, di tengah nada kritisnya, ada satu hal yang tetap ia jaga: optimisme.
Berikut petikan wawancaranya.
Temposiana.com: Belakangan Anda sering mengutip kalimat, “Ada orang, ada masanya. Setiap masa, ada orangnya.” Apa makna kalimat itu bagi Anda?
Stephanus Slamet Budi Raharjo:
Kalimat itu sederhana, tetapi dalam sekali. Hidup bergerak dalam siklus. Ada orang yang cocok memimpin di masa tertentu, ada orang yang lahir justru untuk menjawab tantangan zamannya.
Masalahnya sekarang, banyak orang ingin tampil sebelum siap. Ingin terkenal sebelum memberi manfaat. Padahal zaman ini tidak sedang membutuhkan lebih banyak pencitraan. Bangsa ini membutuhkan orang-orang yang punya integritas dan keberanian moral.
Setiap zaman melahirkan ujiannya sendiri. Dan zaman sekarang, ujian terbesar kita adalah kejujuran.
Temposiana.com: Apakah Anda melihat Indonesia sedang berada dalam situasi yang mengkhawatirkan?
Stephanus Slamet Budi Raharjo:
Kalau jujur, iya. Kita sedang tidak baik-baik saja.
Bukan hanya soal ekonomi atau politik. Yang lebih serius adalah krisis keteladanan. Orang terlalu mudah bicara moral, tetapi sulit memberi contoh.
Media sosial membuat semua orang bisa bicara, tetapi tidak semua orang mau bertanggung jawab atas ucapannya. Kebisingan lebih dominan daripada kebijaksanaan. Popularitas lebih cepat naik dibanding integritas.
Kita melihat banyak orang ingin viral, tetapi sedikit yang mau benar-benar bekerja untuk rakyat, untuk lingkungan, atau untuk bangsanya.
Temposiana.com: Anda dikenal keras terhadap ketidakadilan. Dari mana sikap itu terbentuk?
Stephanus Slamet Budi Raharjo:
Karena saya percaya satu hal: diam terhadap ketidakadilan adalah bagian dari ketidakadilan itu sendiri.
Jurnalisme sejak awal mengajarkan saya bahwa tugas utama kita bukan menyenangkan kekuasaan, melainkan menjaga akal sehat publik.
Mengatakan yang salah sebagai salah, dan yang benar sebagai benar. Sesederhana itu. Tetapi justru itu yang makin sulit hari ini.
Banyak orang takut kehilangan posisi. Takut kehilangan akses. Takut kehilangan kenyamanan. Akhirnya mereka memilih aman daripada jujur.
Padahal bangsa besar tidak dibangun oleh orang-orang yang pandai mencari aman. Bangsa dibangun oleh orang-orang yang berani menjaga nilai.
Temposiana.com: Apakah integritas masih relevan di era sekarang?
Stephanus Slamet Budi Raharjo:
Justru semakin relevan.
Di tengah dunia yang penuh manipulasi citra, integritas menjadi sesuatu yang mahal. Orang bisa membeli popularitas, membeli pencitraan, bahkan membeli opini. Tetapi kepercayaan tidak bisa dibeli.
Integritas itu bukan slogan. Ia adalah keselarasan antara ucapan dan tindakan.
Kalau di depan bicara antikorupsi, ya di belakang juga harus bersih. Kalau bicara moral, ya kehidupan sehari-hari juga harus mencerminkan itu.
Masyarakat sekarang sebenarnya cerdas. Mereka mungkin diam, tetapi mereka bisa merasakan mana orang yang tulus dan mana yang hanya sedang memainkan peran.
Temposiana.com: Dalam tulisan-tulisan Anda, keluarga sering disebut sebagai fondasi utama bangsa.
Stephanus Slamet Budi Raharjo:
Karena semua nilai bermula dari rumah.
Orang bisa punya jabatan tinggi, dihormati di luar, tetapi kalau gagal menjadi teladan di keluarganya sendiri, ada sesuatu yang hilang.
Anak-anak belajar bukan dari ceramah, tetapi dari contoh. Mereka melihat bagaimana orang tua bersikap jujur, bagaimana memperlakukan orang lain, bagaimana menghadapi masalah.
Bangsa ini tidak akan membaik kalau keluarga kehilangan nilai.
Temposiana.com: Di tengah kondisi seperti sekarang, apa yang membuat Anda tetap optimistis?
Stephanus Slamet Budi Raharjo:
Karena saya masih percaya orang baik masih banyak.
Mereka mungkin tidak selalu muncul di televisi atau media sosial. Tetapi mereka bekerja diam-diam. Guru yang jujur. Wartawan yang menjaga idealisme. Polisi yang masih punya hati nurani. Pegawai kecil yang menolak suap. Anak muda yang peduli lingkungan.
Indonesia selalu punya harapan karena selalu ada orang-orang seperti itu.
Kita jangan kalah oleh pesimisme. Jangan merasa semua sudah rusak. Tidak.
Sejarah menunjukkan, bangsa ini berkali-kali melewati masa sulit. Dan setiap masa sulit selalu melahirkan orang-orang yang menjaga harapan.
Temposiana.com: Apa pesan Anda untuk generasi muda?
Stephanus Slamet Budi Raharjo:
Jangan terlalu sibuk ingin terlihat hebat.
Jadilah berguna.
Bangun kapasitas diri. Jaga kejujuran. Jangan menghalalkan segala cara hanya untuk cepat sukses. Karena keberhasilan tanpa integritas biasanya tidak bertahan lama.
Dan satu lagi: dekatlah dengan Tuhan.
Karena sehebat apa pun manusia, akan ada titik ketika kecerdasan dan kekuasaan tidak cukup. Di situlah nurani dan spiritualitas menjadi penuntun.
Orang yang jauh dari Tuhan sering kali mudah mabuk oleh kekuasaan dan pujian.
Temposiana.com: Kalau Anda diminta menggambarkan harapan bagi Indonesia dalam satu kalimat?
Stephanus Slamet Budi Raharjo:
Bangsa ini masih bisa menjadi besar, selama masih ada orang-orang yang berani jujur ketika kebanyakan memilih diam.
Percakapan sore itu berakhir tanpa nada heroik. Tidak ada slogan besar. Tidak ada optimisme kosong.
Hanya keyakinan sederhana: bahwa setiap zaman selalu membutuhkan manusia-manusia yang menjaga nurani.
Dan mungkin, seperti kalimat yang terus diingatnya, setiap masa memang sedang menunggu orang-orang yang tepat untuk menjaganya.
- Klik juga: https://www.hariankami.com/profile-kami/23617111609/ada-orang-ada-masanya-setiap-masa-ada-orangnya



















