TEMPOSIANA.com — Legacy dalam Gerak: Menier Cognac Mendarat di Jakarta

Cahaya lampu LED membias pada kilau kaca kristal di Mantra, Jakarta Utara, Jumat malam pekan lalu. Di antara aroma kayu ek dan dentingan gelas, lebih dari seratus tamu undangan berdiri menyaksikan sebuah debut yang disiapkan bukan sekadar untuk dikenang—tetapi dirasakan.
Menier Cognac, rumah cognac asal Borderies, Prancis, resmi memasuki pasar Indonesia melalui peluncuran Grand Launch yang didesain bak sebuah teater budaya: intim, terkurasi, dan penuh simbol.
Acara dilangsungkan dalam atmosfer yang memadukan gastronomi, fashion, seni pertunjukan, dan ritual minum cognac. Sesuatu yang jarang dilakukan merek baru di pasar Indonesia. “Ini bukan sekadar produk yang tiba,” ujar salah satu tamu dari sebuah bar speakeasy terkemuka. “Ini statement.”
Menier bukan nama asing di Eropa, tetapi di Jakarta, brand ini datang membawa narasi: warisan keluarga yang terus bergerak. Didirikan oleh Jacques Menier dan putranya, Thomas Menier, rumah cognac ini berkembang dalam prinsip distilasi tradisional Prancis—eaux-de-vie dari Borderies yang diarahkan melalui aging dalam oak Prancis, menghasilkan ekspresi yang refined, lembut, dan berkarakter.
Di dalam ballroom yang diterangi tata cahaya lembut, kedua tokoh inti keluarga Menier tampil sederhana. Tidak ada kesan flamboyan. Thomas membuka sambutan dengan kalimat yang terdengar seperti fragmen memoar.
“Ini adalah legacy yang terus bergerak,” ujarnya. “Berakar pada tradisi, dibentuk oleh perjalanan, dan terinspirasi oleh teman-teman baru di seluruh dunia.”
Ayahnya, Jacques—lebih tenang dan puitis—melanjutkan:
“Cognac Menier lebih dari sekadar minuman. Ini bagian keluarga kami. Hari ini, keluarga itu bertambah.”
Peluncuran berjalan layaknya ritual sensory. Empat hidangan dipasangkan dengan dua inti produk: Menier VSOP dan Menier XO.
Salad smoked salmon dan mushroom soup beraroma truffle menjadi pasangan bagi VSOP—yang membawa nada buah halus dan finish elegan.
Sirloin steak USDA prime dengan chimichurri dan chocolate lava cake menjadi panggung bagi XO yang lebih matang: velvety, kompleks, dan panjang.
Seorang pencicip minuman senior yang hadir malam itu menyebut keduanya sebagai “cognac dengan bahasa tubuh modern, tapi tata krama klasik.”
Selain indera pengecap, panggung visual juga tidak luput dari kurasi. Sebuah pertunjukan tari kontemporer menghadirkan botol cognac sebagai objek performatif—seolah ia bukan produk komersial, melainkan artefak budaya.
Peragaan busana dari Ernesto Abram dan The F Icons memperkuat itu. Siluet skulptural dan tekstur modern ditampilkan layaknya perpanjangan estetika rumah Menier: disiplin lama dengan interpretasi baru.
Sesudahnya, ruang berubah tempo. LED menyala lebih berani, dan lantai bergeser menjadi ranah klub malam. DJ YB (Reza Arap) dan DJ Yasmin memimpin ritme—menegaskan dualitas Menier: minuman meja makan fine-dining, tetapi juga teman malam panjang urban Jakarta.
“Jakarta itu bukan pasar yang hanya membeli rasa,” kata Edhi Sumadi, Chief Principal Menier di Indonesia, saat berbicara di sela acara. “Di sini, orang membeli identitas. Menier hadir untuk mereka yang mencari koneksi, bukan sekadar konsumsi.”
Konsep koneksi itu ditambatkan ke realisasi distribusi. Menier kini tersedia melalui Drip Drop Bottleshop, serta mulai muncul di beberapa venue yang dipilih secara teliti: Izzy Social Club, Vault, Bar Miglia, Che Cohiba Atmosphere, Bengkel Space, dan—tentu—Mantra sendiri.
Debut Menier Cognac di Indonesia bukan sekadar peluncuran merek baru dalam pasar minuman premium—melainkan tanda masuknya gaya komunikasi baru dari produsen minuman bersejarah: generasi pewaris yang mengemas tradisi dengan narasi budaya kontemporer.
Jika malam itu merupakan prolog, maka bab berikutnya kemungkinan akan berlangsung di meja bar Jakarta—baik di gelas snifter yang tenang atau highball berbalut musik elektronik.
Sebuah legacy memang sedang bergerak. Dan Jakarta memilih menontonnya dari jarak dekat.



















