#  

Jaringan penulis biografi tokoh Usulkan WFH Swasta dan Pemerintah

TEMPOSIANA.com Skenario Hemat Energi di Tengah Bayang Krisis Global

Jaringan penulis biografi tokoh mengusulkan sejumlah langkah antisipatif jika tekanan energi global meningkat.

Salah satu gagasan yang mereka dorong adalah penerapan kerja dari rumah atau work from home (WFH) serta pengurangan hari kerja guna menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM).

Usulan tersebut disampaikan sebagai respons terhadap dinamika geopolitik di kawasan Eropa dan Timur Tengah yang dinilai berpotensi memengaruhi harga energi dunia.

Kenaikan harga energi, menurut para penulis, disainer dan perancang buku biografi tokoh atas satu langkah yang perlu dipertimbangkan adalah penerapan kerja di rumah (WFH) dan pengurangan hari kerja baik swasta atau pemerintah.

Hari Kerja Empat Hari Saja

Kelompok penulis itu menilai Indonesia perlu menyiapkan skenario penghematan energi sejak dini, meskipun kondisi domestik saat ini relatif stabil.

“Kita bersyukur situasi masih aman, tetapi kita juga tidak boleh terlalu lengah. Langkah antisipatif harus dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan terburuk,” ujar perwakilan jaringan penulis biografi tersebut.

Salah satu langkah yang dianggap realistis adalah penerapan WFH bagi sebagian pekerja, baik di sektor pemerintahan maupun swasta.

Skema ini dinilai mampu menekan mobilitas harian masyarakat yang selama ini menjadi salah satu penyumbang utama konsumsi BBM.

Selain itu, mereka juga mengusulkan pengurangan hari kerja menjadi empat hari dalam sepekan sebagai opsi kebijakan jika krisis energi benar-benar terjadi.

Dengan berkurangnya hari kerja dan mobilitas, konsumsi bahan bakar untuk transportasi diharapkan dapat ditekan secara signifikan.

Efisiensi Belanja Negara

Di luar kebijakan yang menyasar masyarakat, jaringan penulis biografi tokoh juga menyoroti pentingnya efisiensi belanja pemerintah, khususnya pada kementerian dan lembaga.

Menurut mereka, penghematan dapat dimulai dari pos belanja operasional yang tidak berkaitan langsung dengan pelayanan publik. Pos yang dimaksud antara lain perjalanan dinas, rapat, pengadaan barang, hingga administrasi rutin.

Efisiensi tersebut dinilai dapat membantu pemerintah menjaga ruang fiskal jika tekanan ekonomi global meningkat.

Subsidi Energi Dinilai Tidak Tepat Sasaran

Kelompok ini juga menyoroti persoalan subsidi energi yang selama ini dinilai belum tepat sasaran.

Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2025, kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi justru menikmati porsi subsidi energi yang lebih besar dibandingkan kelompok miskin.

Perhitungan Next Indonesia Center menunjukkan potensi subsidi yang salah sasaran cukup besar. Untuk subsidi elpiji, nilainya diperkirakan mencapai Rp 44,8 triliun. Sementara subsidi BBM diperkirakan mencapai Rp 88,7 triliun.

Dengan demikian, total subsidi energi yang tidak tepat sasaran diperkirakan mencapai sekitar Rp 133,5 triliun.

Angka tersebut, menurut jaringan penulis biografi tokoh, menunjukkan pentingnya reformasi kebijakan subsidi agar lebih tepat sasaran dan tidak membebani anggaran negara.

Belajar dari Negara Lain

Dalam paparannya, kelompok penulis ini juga mencontohkan sejumlah langkah penghematan energi yang pernah diterapkan negara lain saat menghadapi tekanan ekonomi.

Salah satu contoh adalah Pakistan. Negara tersebut sempat menerapkan kebijakan kerja dari rumah bagi sebagian besar aparatur pemerintah dan pekerja swasta.

Sekitar 50 persen pegawai bekerja dari rumah, sementara hari kerja dipangkas menjadi empat hari dalam sepekan.

Selain itu, pemerintah Pakistan juga melakukan pemotongan gaji pejabat negara, membatasi penggunaan kendaraan dinas, hingga menghentikan sejumlah belanja negara yang dianggap tidak mendesak.

Langkah-langkah tersebut dilakukan sebagai strategi untuk menekan konsumsi energi sekaligus menjaga stabilitas fiskal.

Bagi jaringan penulis biografi tokoh, kebijakan serupa bisa menjadi referensi bagi Indonesia apabila tekanan energi global meningkat.

“Ini bukan soal panik menghadapi krisis. Tetapi kita juga tidak boleh merasa terlalu aman. Upaya penghematan konsumsi BBM perlu menjadi perhatian bersama,” kata mereka.

Klik juga: https://www.hariankami.com/kami-indonesia/23616868787/jaringan-penulis-buku-biografi-tokoh-usulkan-wfh-dan-pengurangan-hari-kerja-jika-krisis-terjadi