#  

Mensiasati Senjakala Media Digital Di Masa Pandemi

Senjakala Media Digital Di Era Pandemi Covid-19

[ad_1]

Milenial males dicekoki berita, tapi senang transaksi jual beli. Tanpa perlu lagi pihak perantara, mediator, atau makelar. Mereka lebih senang nonton  memilih yang disenangi, males baca. 

Lebih senang “main”  IG,  nonton Youtube, Instastories atau film, memantau netflix, Hooq, iflix dan main game.

Mensiasati Senjakala Media Digital Di Masa Pandemi

Ada seorang jurnalis yang kuatir, tulisan PDFnya di media cetak yang tampil dan menyebar di medsos akan membuat dirinya di PHK. lantaran perusahaan bisa bangkrut. Pasalnya pendapatan dari penyebaran e-magazinenya jadi nihil.

Di lain sisi, seorang jurnalis senior berpendapat tak perlu kuatir. Penghasilan dari PDF tak seberapa dibandng iklan dan pemasukan advertorial serta income dari iklan di website, dari google adsense hingga MGID. Perusahaan juga tak akan bangkrut, justru media massa itu punya nilai membangkitkan minat baca.

Pasalnya, anak milenial males baca. Senangnya nonton. Itu berdasar apa yang mereka mau, media televisi  yang menyorong program. Kalau “pamor” dengan netflix atau youtube, sehingga penontonnya sudah tergerus. Tak hanya media cetak yang dipaparkan “surut”.

Setelah televisi kuatir, dengan fenomena generasi malas baca ini. Media online, juga mulai kuatir. Ogahnya kaum muda dan milenial membaca, menggeser media online tak lagi “anak emas” internet.

Pakar komunikasi banyak yang menyayangkan sikap Dewan Pers yang lamban mengantisipasi keadaan. Situ berubah.  Harusnya Dewan Pers lebih “proaktif” mendata media digital, bagaimana agar secara bisnis tak mengganggu tapi malah mensuport situasi, misalnya seperti kemarin dalam mensosialisasikan “ubah laku” dalam menghadapi pandemi virus corona.

Dewan Pers menyebut, ada sekitar 40 ribu situs berita.  Seorang pakar,  Kris Moerwanto bahkan sempat menulis dan menebak peluang eksistensi:  ‘Media Baru’, paska tamatnya New Media.

Apa itu?

Kris menyebut, media online sampai pada situasi di tahun 2016 ketika itu, senangnya copy-paste. Ide, aspirasi, informasi, atau data. Semuanya direproduksi, diduplikasi, direplikasi sekaligus dibagi. Bisa diakses secara gratis.

Konsultan media, pengamat teknologi, bahkan para media futurist menganalogikan berita di media online itu seperti mie Ramen Jepang.

Berita Menarik :  Remehkan Virus Corona, Pejabat Indonesia Dikecam Para Diplomat

Sementara berita di Koran atau majalah cetak, diibaratkan hidangan sekelas steak dengan daging pilihan.

Bagaimana di 2021 nanti?

Ternyata akar masalahnya adalah problem monetisasi. Jangan juga mendirikan media online atau website bergantung pada kepentingan sesaat, atau “tergantung siapa yang bayar” tanpa integritas.

Pasalnya, model bisnis media online, jualan berita di media online ternyata tidak mudah. Berharap ada penghasilan dari iklan, ternyata tidak gampang. Tapi, bukan berarti sulit-sulit amat.

Masih menurut catatan seorang media digital analis,  media online luar negeri saja sudah ada beberapa yang merugi. Raksasa periklanan juga mengumumkan tak akan lagi meneruskan berbisnis di periklanan.

Para behavioral economists, termasuk yang sudah berkali-kali mewanti, bahwa murah, kini semakin dipersepsi sebagai ‘murahan’.

Fenomena banjir inflasi informasi sampah, semakin menyebabkan apresiasi audiens atas kredibilitas berita via media online, semakin merosot.

Itu berdampak ke aspek “perceived quality” dari konten produk. Tren akses murah-murahan (bahkan hampir gratis), berdampak sangat buruk, bagi bisnis berita.

Apalagi media sosial membuat semua orang semacam “wartawan”,  bisa memproduksi informasi, berita, gossip, isu, atau pesan.

Perlu dilakukan program semacam ubahlaku, dalam ragam sosialisasi pemerintah. Sehingga roda media digital bisa berjalan dengan sehat.

Lansekap Media Berubah

Makin maraknya skala penggunaan aplikasi di hampir semua hajat kehidupan.

Hanya audiens yang cerdas mencari berita bermutu. Milenial males dicekoki berita, tapi senang transaksi jual beli. Tanpa perlu lagi pihak perantara, mediator, atau makelar.

Menjadikan periklanan digital, seakan takdir tak akan pernah menjadi revenue stream. Apalagi, jika bisnis medianya tak sekaliber Facebook, atau Google.

Membahas media masa depan, lebih ke informasi yang tepat di waktu, tempat dan di tangan pihak yang tepat, bisa memberikan dampak perubahan yang lebih baik, seperti mengubah kualitas kehidupan.

Fakta di Indonesia menggambarkan itu: ketika akses website digratiskan, yang singgah jumlahnya bisa mencapai jutaan. Tapi begitu diharuskan berbayar, jumlah penyinggahnya langsung drop.

Klik Berita Bayar,  Belum Diminati

Jurnalisme berbasis berita yang kini makin bergeser ke cerita, diramal kelak akan menjelma menjadi jurnalisme berbasis data.

Orang lantas ingat dengan adagium ini: bahwa mayoritas (95% keputusan) kita ambil dalam keadaan subconscious mind state. Termasuk, sekadar ikut-ikutan melakukan yang kebanyakan orang lakukan.

Makanya, mayoritas pengguna merasa telah mengambil choice yang tepat. Dengan bersikap ‘percaya saja’ kepada commitment dan integritas pihak ketiga, pengelola keamanan platform.

Media, termasuk personal brand, harus siap-siap ter-disruption. Di-cuekin audiens. Atau mendadak lenyap, digilas perubahan. Peran Media ke depan adalah terkait ‘makna bagi jiwa’.

Karena, masih banyak yang senang membuka lembar majalah seperti halnya membaca buku cetak. Lebih humanis.

Eranya konvergensi, ada cetak dan di online yang gratis – seperti lazimnya produk buatan pabrik.

Online berita ada yang  harus bisa diproduksi sebanyak-banyaknya. Atau mengambil segmen, features, dengan target di klik, di setiap pemberiaan adalah ribuan atau jutaan views.

Jadi, sejatinya,  tak hanya media cetak yang senjakala. Stasiun TV  mulai tergeser perannya.

Harus diakui,  ternyata minat baca kaum milenial rendah. Kaum milenial lebih senang “main”  IG,  nonton Youtube, Instastories atau film, memantau netflix, Hooq, iflix dan main game.

Jadi tugas kita adalah menggerakan generasi “yang males baca” dengan tulisan yang membuat mereka tertarik.

Sang jurnalis atau penulis juga harus punya jiwa socialpreneur untuk kebutuhan youtube, sosial media dan promosi.

Dengan demikian, metode work from home tetap saja pemasukan untuk website dan ketrampilannya bisa menjadi income monetisasi pribadi.

Jurnalisnya perlu inovatif, berkembang terus dan tak terpengaruh krisis.

Laiknya  “kreator besar”, yang memiliki rencana bisnis matang tentang bagaimana menciptakan dan menyampaikan nilai konten mereka.

Agar tak masuk senjakala, perlu diajarkan teknik “endorsement” dan memperoleh pendapatan di luar sekadar iklan AdSense dari para vendor dan voucher rilis. Nulis tak sekedar nulis, harus tahu juga keyword.

Ini sekedar, catatan “tengah”, bukan catatan “pinggir” lagi. Gimana?, apa masukan Anda?

[ad_2]

Sumber Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *