#  

Sukseskan Program Goes To Japan – DGII  dan UIA Gelar  Webinar Duta Global to Japan : Peluang Kerja di Jepang  saat  ini Sangat Menggiurkan – MAJALAH EKSEKUTIF

[ad_1]

 

Jepang saat ini banyak sekali membutuhkan tenaga kerja trampil yang berasal dari luar. Pasalnya, Jepang sendiri ketersediaan SDM dalam negerinya mengalami penurunan. Hal itu diungkapan oleh Shinji Kurata (HR Department Advisor, Hitowa Holding Co.Ltd), dalam acara Webinar Duta Global to Japan  bertajuk “Duta Bangsa Menuju Global”  yang digelar oleh PT. Duta Global Insan Indonesia (DGII) bersama Universitas Islam As Syafiiyah (UIA), Kamis ( 21/01/2020).

Webinar  tersebut dihadiri oleh nara sumber  : 1. Endraswari Safitri ( Direktur Utama Duta Global),  2. Dr. Masduki Ahmad, SH, MM (Rektor UIA) , 3. Prof. Dr. H. Dailami Firdaus (Ketua Yayasan Perguruan Tinggi As-Syafi’iyah),        4. Prof. Dr. Ir. Marsudi Wahyu Kisworo, IPU (Komisaris Independen PT Telkom   Indonesia Tbk), 5. Kazuya Yamanouchi (President Liana Segrus Co.Ltd),  6. Shinji Kurata  ( Hitowa Holdings Co.,Ltd), 7. Yoichiro Higashi ( The Nishinippon Shimbun Co.,Ltd, serta Moderator Indra Kuntadi, SE (GM Marketing) dan  Penerjemah : Dr. Dedi Sutedi (Ketua Asosiasi Tenaga Pengajar Bahasa Jepang Seluruh Indonesia).

Menurut Shinji,  Jepang  menghadapi problem dan situasi dimana generasi baby boomer akan masuk ke dalam penduduk usia tidak produktif di tahun 2025. “Populasi ini akan meningkat 17,8% dari total populasi di Jepang. Sedangkan angkatan kerja produktif di Jepang akan mengalami penurunan, sehingga kebutuhan akan tenaga kerja di sektor keperawatan akan terus meningkat,” jelas Shinji.

Sementara itu, menurut Komisaris DGII, Prof. Ace Suryadi, M.Sc, Ph.D mengungkapkan bahwa dalam 10 tahun kedepan, Jepang membutuhkan sekitar 8-10 juta pekerja terdidik Indonesia untuk bekerja di berbagai jenis dan sektor industri.

Menyikapi hal itu  DGII  tengah merancang sebuah konsep yang akan mempersiapkan anak bangsa yang profesional, mandiri berwawasan kebangsaan yang siap berkarier di luar negeri, khususnya di Jepang.

Menurut Direktur Utama DGII Endraswari Safitri, tujuan  diadakannya  acara  Webinar Duta Global to Japan tersebut adalah untuk menyosialisasikan peluang kerja dan belajar di Jepang.

“Target kami adalah  anak-anak usia 18-30 tahun untuk bekerja di luar negeri dan kami DGII dan UIA sudah menandatangani Nota Kesepahaman (MOU) dengan Liana Segrus, Co, Ltd – Jepang sebagai Registered Supporting Organization . Isi MOU tersebut adalah kerjasama untuk bidang akademik dan pengiriman tenaga kerja terdidik ke Jepang,” jelas Safitri.

“Kami dapat menjamin, jika anak lulus dalam pendidikan bahasa jepang dan karakter, maka dapat langsung berangkat ke Jepang, lanjut Endraswari. Di awal DGII akan fokus kepada program Specified Skill Worker untuk pengirman tenaga perawat (caregiver),” tegasnya.

Mengomentari hal itu, Rektor UIA, Dr. Masduki Ahmad, SH, MM, menyampaikan bahwa program kerja dan belajar di Jepang ini sangat baik.  “Kami UIA siap mengawal para calon peserta untuk mempersiapkan tenaga kerja terdidik yang profesional, dan tentunya kami mengajak banyak pihak lain untuk bekerja sama dengan kami untuk menyukseskan program ini. Kami sebut program ini adalah sebagai solusi bangsa di tengah masa pandemi Covid 19, “lanjut Masduki.

Hal senada  ditekankan  juga oleh Prof. Ace. Menurutnya,  Indonesia saat ini masih lebih banyak berbicara masalah pengangguran ketimbang solusinya yang nyata dan sistematis. “Program GTJ adalah sebuah tawaran solusi masalah pengangguran di tanah air, memadukan antara informasi excesive labor supply di Indonesia dengan labor shortage di Jepang, “ ungkap Ace.

“Program Goes To Japan (GTJ), khususnya intrernship,  memungkinkan para mahasiswa untuk berenang bukan hanya di kolamnya sendiri dan dengan gaya-nya sendiri, tetapi juga berenang di sungai besar bahkan di laut lepas dengan gaya yang lebih kaya.Itu salah satu kebijakan Kampus Merdeka,” jelas Ace.

“Dengan program GTJ, Indonesia memerlukan investasiRp. 25 triliun untuk membentuk 1 juta lulusan SMK-sarjana yang siap kerja di Jepang, tetapi potensi devisa negara bisa mencapai sekitar Rp. 1.000 triliun; sebuah investasi yang tidak mudah dicapai oleh BUMN yang besar sekalipun,” tambahnya.

Bagi para tenaga kerja sendiri hal itu sangat menggiurkan. Pasalnya saat ini Jepang telah memberlakukan kebijakan  baru  yang lebih  baik bagi tenaga kerja asing.

Menurut  Kazuya Yamanouchi sebagai President Liana Segrus, Co, Ltd, mengungkapkan bahwa di Jepang sedang mengalami kekurangan tenaga kerja (extreme labor shortage). “Menyadari situasi tersebut parlemen Jepang  telah mengeluarkan kebijakan ketenagakerjaan baru melalui amandemen Immigration Control and Refugee Recognition Act, dimana kebijakan baru ini mulai berlaku sejak April 2019 dan akan membuka peluang kerja seluas-luasnya kepada negara lain,” jelasnya.

“Perbedaan kebijakan parlemen Jepang dari yang sebelumnya adalah jika dulu hak dan kewajibannya pekerja asing dibedakan, sekarang memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan pekerja Jepang sebagai gambaran dari sisi gaji UMR pekerja Jepang jika di rupiahkan berkisar 25 juta rupiah,” tambahnya.

 

 

 

 2 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini



[ad_2]

Sumber Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *