[ad_1]
Telegraf – Dengan iringan musik sambil mengayun-ayunkan lengannya ke depan dan belakang, seorang instruktur kebugaran di Myanmar, Khing Hnin Wai merekam gerakan dan senamnya di depan kamera, sebuah rutinitas biasa pada hari yang luar biasa di Myanmar itu.
Lagu ‘Ampun Bang Jago’ karya Jonathan Dorongpangalo (Tian Storm) dan Everly Salikara (Everslkr) yang dipilihnya jadi penghantar senar aerobiknya tanpa sadar ikut mengiringi kudeta yang dilakukan oleh militer di Naypyidaw, Myanmar.
Dalam video yang berdurasi 3 menit 25 detik itu, Khing Hnin Wai, seorang guru pendidikan jasmani itu tidak menyadari bahwa dibelakangnya sedang terjadi peristiwa bersejarah di negaranya.
Dalam videonya itu, terlihat latar belakang jalan utama menuju gedung parlemen di Naypyidaw yang sangat lengang dan kosong karena dipagari oleh barikade dan kendaraan militer sejak terjadinya kudeta. Jalanan tersebut juga terlihat hanya dilalui oleh mobil-mobil dan kendaraan militer.
Alunan musik Ampun Bang Jago tidak disangka ternyata ikut menjadi pengiring seorang jenderal Min Aung Hlaing bagaikan seorang jagoan yang melakukan kudeta pada pemerintahan yang sah dengan menahan pemimpin de facto Aung San Suu Kyi dan sejumlah pemimpin politik lainnya.
Militer kemudian mengambil alih kekuasaan dan memberlakukan kondisi darurat selama setahun ke depan, serta menuding partai yang dipimpin Suu Kyi melakukan kecurangan dalam pemilu baru-baru ini.
Namun konon dibalik cerita lagu yang dijadikan pengiring senam itu, rupanya lagu Ampun Bang Jago menjadi jargon yang dibuat untuk menjawab keresahan sang pembuat lagu, yakni Tian Storm dan Everslkr.
Khing mengunggah video senamnya ke Facebook pada Senin (01/02/2021) pagi.
Sontak warga netizen pun berkomentar tentang kondisi kontras yang nyata antara gerakan senam Khing yang heboh dan kudeta militer di Myanmar.
Pada awalnya, ada beberapa keraguan terkait keaslian video itu, mengingat keadaan yang luar biasa sedang terjadi ketika video itu direkam.
Namun ketika detektif internet, jurnalis, dan peneliti disinformasi menilik asal video itu, keasilannya menjadi terang benderang.
Dalam unggahan lain di Facebook, instruktur fitnes ini mengatakan bahwa bundaran di jalan utama menuju parlemen itu merupakan lokasi senam favoritnya “selama 11 bulan terakhir”.
Untuk membuktikannya, ia mengunggah cuplikan video lain yang menunjukkan dirinya melakukan rutinitas senam di tempat yang sama.
Menangani kritik dari pendukung militer Myanmar, ia menggunakan platform Facebook untuk membela diri.
“Saya senam bukan untuk mengejek atau mengolok-olok organisasi mana pun atau menjadi konyol. Saya senam untuk kompetisi kebugaran,” tulis Khing.
“Karena tidak jarang konvoi pejabat melewati Nay Pyi Taw, saya pikir itu normal jadi saya melanjutkan.” jelasnya.
Reaksi Pada Video
Di media sosial, video itu telah disebarluaskan dan ditonton berulang kali, hingga lebih dari 16,5 juta kali di salah satu unggahan jurnalis India saja.
“Mengagumkan”, “luar biasa” dan “emosional” adalah beberapa kata yang digunakan untuk mendeskripsikan video tersebut.
Video itu juga menjadi pembicaraan di Reddit, di mana beberapa pengguna menciptakan gambar kolase yang memadukan Khing ke dalam foto dari peristiwa bersejarah lainnya, seperti serangan di Gedung Capitol di Washington, Amerika Serikat, pada bulan lalu.
Sementara itu, video tersebut juga mendapat gaung khusus di Indonesia, sebab lagu yang digunakan oleh Khing telah lama menjadi ‘lagu kebangsaan’ dalam unjuk rasa Omnibus Law beberapa bulan lalu, dan sering digunakan untuk mengejek pihak berwenang.
Lagu bertajuk Ampun Bang Jago itu populer di TikTok selama rangkaian unjuk rasa menentang aturan sapu jagat UU Cipta Kerja yang disebut para kritikus akan merugikan tenaga kerja dan lingkungan.
Namun, dalam kasus Khing, pilihan lagu ini untuk mengiringi gerakan senamnya tampaknya hanya sekedar kebetulan.
Di Facebook, Khing membantah bahwa ia memiliki motif, baik politik atau lainnya, dan menegaskan ia tidak mengunggah video itu “sebagai gurauan” atau “untuk menjadi selebritas”.
Photo Credit: Militer Myanmar berjaga di sebuah pos pemeriksaan jalan masuk komplek parlemen Myanmar dengan kendaraan lapis baja dan apel siaga pasukan, Selasa, 2 Februari 2021, di Naypyitaw, Myanmar. AP Photo
[ad_2]
Sumber Berita


















