#  

Dua Ustad dan Satu Guru Terima Manfaat Family Shelter ACT

[ad_1]

Mamuju, Gatra.com – Aksi Cepat Tanggap (ACT) mulai mendirikan tiga rumah yang merupakan bagian dari program Family Shelter bagi korban gempa di Dusun Sendana, Desa Botteng Utara, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju, Sulbar, Jumat (29/1). Ini merupakan kegiatan membangun hunian tetap yang didanai oleh program Sahabat Guru Indonesia, Sahabat Pelajar Indonesia, dan Sahabat Da’i Indonesia.

Rumah berukuran 3×6 meter tersebut berdiri di lahan yang sudah disurvei oleh tim ACT sebelumnya. Tanah dipastikan bukan lahan bermasalah. Terletak tidak jauh dari rumah warga yang terdampak bencana.

Ustad Arifin, 48 tahun sudah mengajar di TPA Rizki selama tiga tahun terakhir. Usai salat Magrib, 30-40 anak datang berguru tiga kali seminggu di mesjid berukuran 12×12 meter itu.

Relawan konstruksi ACT membangun rumah bagi korban gempa Mamuju sebagai bagian program Family Shelter di Dusun Sendana, Desa Botteng Utara, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. (GATRA/fly)

 

Ketika gempa merobohkan mesjid, kini Ustad terpaksa mengajar di tenda darurat. Dia tetap konsisten membuka kelas tiga kali seminggu, usai salat Magrib.

“Semua Al Qur’an hancur saat gempa,” keluhnya.

Guru MTS Al Wildan Adiyadi, Lenni ikut menceritakan kesulitannya. Sebelum gempa, dia mengajar dan mengaji hingga 20 anak, empat kali seminggu. Hari ini, dia hanya bisa mengajar sekitar 10 bocah, dua kali seminggu.

Dia mengakui, anak-anak itu kebanyakan masih trauma untuk berkumpul duduk bersama dalam waktu lama. Salah satu keponakannya yang masih berusia tiga tahun malah sempat ketakutan untuk masuk ke dalam bangunan berdinding tembok.

Ustad Arifin dan istri adalah salah satu penerima manfaat program Family Shelter ACT di Dusun Sendana, Desa Botteng Utara, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. (GATRA/fly)

 

Rumah Ustad Arifin dan guru Lenni pun rubuh usai gempa 6,2 magnitudo (M) mengguncang pada Jumat dinihari (15/1) lalu. Tak heran, ACT memilih mereka sebagai penerima manfaat program Family Shelter.

“Kita melakukan asesmen terlebih dahulu. Memastikan agar bantuan tepat sasaran,” jelas Senior Manager ACT, Dede Abdulrahman.

Ketiga rumah mulai dibangun pada Jumat oleh relawan tukang dari ACT, dan direncanakan selesai dalam 12 hari kedepan. Dengan dinding beton dan atap seng, rumah itu bisa bertahan minimal tiga tahun, bahkan lebih jika dirawat dengan baik.

“Alhamdulillah ada bantuan,” ucap Ustad Arifin.

Ayah enam anak itu juga bersyukur semua keluarganya selamat dari gempa. Saat bencana terjadi, mereka tengah berada di rumah anak sulungnya yang telah menikah dan terletak di desa lain.

 


Editor: Flora L.Y. Barus


[ad_2]

Sumber Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *