[ad_1]
Dua tahun di pesantren, pada 2000-an, Mahmudi berangkat ke Filipina untuk menjalani pelatihan militer. Tiga tahun di sana, ia kembali ke Surabaya. Semangat heroiknya semakin menggebu. Ia mengaku ingin menjadi aktor utama terorisme. Namun, polisi sudah lebih dulu menangkap Mahmudi pada Juli 2003. Ia kedapatan menyimpan bahan peledak milik Mustofa alias Abu Tholut, pelaku Bom JW Marriot, di rumahnya di Kalibanteng, Semarang Barat. Ia divonis 10 tahun penjara. Ia bebas 5 tahun kemudian karena mendapat remisi.
Sekarang Mahmudi memang sudah berusia 44 tahun. Namun, ia mengatakan pola perekrutan teroris, dari zaman dulu sampai sekarang, di kalangan anak muda masih menggunakan metode serupa. Ceramah-ceramah yang membakar semangat dan iming-iming perjuangan. “Sebab anak muda masih mencari jati diri,” kata Mahmudi.
Fenomena keterlibatan anak muda di dalam terorisme kembali menjadi sorotan. Salah satunya ketika Zakiah Aini, seorang perempuan berusia 25 tahun, menyerang Markas Besar Polri pada akhir Maret lalu. Polisi menyebut Zakiah adalah pelaku tunggal yang terpapar radikalisme dari internet.
Kasus lain adalah bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar pada medio Maret 2021. Pelaku teror adalah pasangan suami istri. Belakangan diketahui sang istri masih berusia 25 tahun.
Pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian Noor Huda Ismail mengatakan usia muda memang menjadi sasaran empuk jaringan terorisme. Fenomena tersebut, kata dia, sebenarnya bukanlah barang yang baru. “Faktor psikologis memegang peranan penting untuk menarik anak-anak muda, tak hanya soal ideologi,” kata Huda kepada Tempo pada Selasa, 6 April 2021.
Dia mengatakan, manusia memiliki kebutuhan dasar sosial berupa pengakuan. Ketika seseorang tidak merasa diterima di lingkungan mayoritas, maka orang itu akan mencari tempat lain agar merasa diakui, sekalipun itu kelompok radikal. Apalagi, kata Huda, masa muda lekat dengan pencarian jati diri. Sisi psikologis itulah yang menjadi dimanfaatkan oleh para rekrutmen jaringan terorisme.
Salah satu celah yang mereka gunakan untuk merekrut pemuda-pemudi ialah kegalauan yang dimiliki mereka. Saat itulah para perekrut mendekati targetnya. “Galaunya itu macam-macam. Misalnya kasus ZA yang kemarin, bisa jadi DO, bisa jadi, dia galau, apalagi kalau tinggalnya di perkotaan, stres juga.” kata Huda. Huda mengatakan dalam film dokumenter buatannya, Pengantin, ada juga keinginan mendapatkan jodoh, lalu masuk kelompok, baru ditanamkan ideologi.
[ad_2]
Sumber Berita


















