#  

Nada di Balik Tubuh: Ketika Musik Tak Lagi Sekadar Mengiringi Tari

TEMPOSIANA.comNada di Balik Tubuh: Ketika Musik Tak Lagi Sekadar Mengiringi Tari

Rumah Karya Sjuman dan Kreativität Dance Indonesia mempertemukan tujuh koreografi, musik langsung, dan penonton dalam sebuah pertunjukan semi-imersif. Di baliknya ada perjalanan tiga dekade KDI serta upaya membaca kembali hubungan tubuh dan bunyi.

Dari mana sebuah gerak bermula?

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tapi di tangan Aksan Sjuman dan para koreografer Kreativität Dance Indonesia (KDI), jawabannya justru hendak dibuat tidak sederhana. Gerak bisa lahir sebelum musik terdengar. Bunyi dapat muncul sebagai respons terhadap tubuh. Bahkan penonton, yang biasanya duduk sebagai pengamat, dapat ikut menjadi bagian dari ketegangan antara keduanya.

Eksperimen itulah yang hendak dibawa Rumah Karya Sjuman bersama KDI melalui Nada di Balik Tubuh, yang akan dipentaskan di Gedung Putih, Bintaro, pada Minggu, 23 Agustus 2026.

Di bawah arahan artistik Aksan Sjuman, tujuh karya koreografi akan dipertemukan dalam satu panggung. Setiap karya datang dengan bahasa dan sudut pandang sendiri, tetapi semuanya berangkat dari satu pertanyaan: dari mana sebuah gerak bermula?

“Selama ini penonton cenderung melihat musik sebagai pengiring tari,” kata Aksan. Melalui pertunjukan ini, ia ingin membalik cara pandang tersebut. “Bagaimana jika gerak tubuh, komposisi musik, bahkan penonton, terlibat dalam sebuah interaksi yang intim.”

Menurut Aksan, pertunjukan itu memang tidak dirancang untuk menawarkan jawaban tunggal. “Kami ingin membuka ruang untuk mengalami pertanyaan itu bersama.”

Tubuh yang Mendekati Penonton

Nada di Balik Tubuh disiapkan dalam format semi-imersif. Batas antara panggung dan bangku penonton dibuat lebih cair. Penari, musisi, dan penonton ditempatkan dalam ruang perjumpaan yang lebih dekat ketimbang pertunjukan tari konvensional.

Kedekatan itu bukan semata urusan tata panggung. Penonton diharapkan tidak berhenti sebagai orang yang datang, duduk, menonton, lalu pulang. Aksan akan memantik sejumlah refleksi selama pertunjukan sehingga pengalaman menyaksikan tari bergerak menjadi pengalaman membaca hubungan antara bunyi, tubuh, ruang, dan manusia di dalamnya.

Eksperimen tersebut sekaligus menjadi babak lain dari perjalanan panjang KDI.

Kelompok tari ini didirikan maestro tari Indonesia Farida Oetoyo pada 1995. Selama lebih dari tiga dasawarsa, KDI menjadi ruang pertemuan berbagai tradisi tari dan praktik artistik dari banyak tempat.

Pengaruh itu tidak sekadar dipinjam lalu ditempelkan ke dalam sebuah koreografi. KDI berusaha mengolahnya menjadi bahasa artistik yang berakar pada konteks Indonesia.

Nada di Balik Tubuh lahir dari perjalanan tersebut.

Dari Farida Oetoyo ke Generasi Baru

Enjoyed this article?
Buy the writer a coffee.
Buy Me a Coffee
Support the creator · E-Wallet
CHOOSE AN AMOUNT

Ada tujuh karya yang akan muncul sepanjang pertunjukan. Enam merupakan karya baru.

Yudistira Sjuman menghadirkan dua karya. Empat karya lainnya masing-masing datang dari Nudiandra Sarasvati, Wenny Halim, Althea Sri Bestari, dan Syanindita Prameswari.

Mereka berangkat dari pertanyaan yang sama, tetapi tidak harus tiba pada kesimpulan serupa. Justru perbedaan cara membaca tubuh, musik, dan ruang itulah yang akan membentuk perjalanan pertunjukan.

Di tengah karya-karya baru tersebut, KDI membawa kembali sebuah jejak dari masa lalu: fragmen pas de deux dari Serdtse, repertoar ikonik karya Farida Oetoyo.

Fragmen itu seperti jembatan.

Di satu sisi terdapat warisan artistik Farida yang membentuk KDI sejak 1995. Di sisi lain berdiri generasi koreografer baru yang mencoba menemukan bahasa mereka sendiri.

Dengan demikian, Nada di Balik Tubuh bukan sekadar kumpulan tujuh koreografi. Pertunjukan ini juga dapat dibaca sebagai percakapan antargenerasi—antara sesuatu yang diwariskan dan sesuatu yang masih terus dicari.

Warisan tidak ditempatkan sebagai benda museum. Ia dibawa kembali ke panggung untuk berdialog dengan zaman.

Musik yang Ikut Bergerak

Percakapan itu semakin kentara pada musik.

Lanskap musikal Nada di Balik Tubuh dibangun melalui komposisi Aksan Sjuman dan Indra Lesmana yang dimainkan secara langsung. Pertunjukan ini juga melibatkan kelompok multidisiplin Ura-Ura.

Musik karena itu tidak ditempatkan sekadar sebagai latar yang menentukan kapan penari harus melangkah atau berhenti.

Hubungannya dibuat lebih cair.

Tubuh dapat merespons bunyi. Bunyi bisa membaca tubuh. Keduanya dapat bertemu, berjarak, atau bahkan saling menunggu.

Gagasan tersebut menjelaskan mengapa judul Nada di Balik Tubuh terasa penting. Ada usaha untuk mencari sesuatu yang tidak selalu terlihat ketika tari dan musik ditempatkan dalam hubungan konvensional antara yang “mengiringi” dan yang “diiringi”.

Pertunjukan ini mencoba mengusik pembagian tersebut.

Dari Ruang Latihan

Proses menuju panggung pun sempat dibuka kepada publik.

Pada 16 Agustus 2026, sepekan sebelum pertunjukan, Rumah Karya Sjuman dan KDI menggelar Latihan Gabungan Terbuka di Studio Ponpinspace, Jakarta Selatan. Rekan media, pegiat seni, dan masyarakat mendapat kesempatan melihat proses ketika karya-karya itu belum sepenuhnya menjadi pertunjukan.

Di ruang latihan, sebuah gerakan dapat diulang berkali-kali. Musik bisa berubah. Jarak antartubuh dapat dikoreksi. Sesuatu yang kelak tampak beberapa menit di panggung mungkin membutuhkan proses berjam-jam untuk menemukannya.

Membuka latihan menjadi menarik justru karena penonton dapat melihat bahwa sebuah pertunjukan tidak lahir dalam keadaan selesai.

Ia tumbuh.

Seperti KDI sendiri.

Tiga dekade setelah Farida Oetoyo mendirikannya, kelompok ini masih mencoba mencari kemungkinan lain dari tubuh, musik, dan panggung. Generasi berganti, koreografer baru muncul, cara menonton pun berubah.

Pertanyaannya mungkin tetap sama: dari mana gerak bermula?

Nada di Balik Tubuh tampaknya tidak terlalu berambisi memberikan jawabannya.

Ia justru mengajak penonton datang dan mencarinya sendiri.

Agenda Pertunjukan

Nada di Balik Tubuh
Penyelenggara: Rumah Karya Sjuman & Kreativität Dance Indonesia (KDI)
Hari/Tanggal: Minggu, 23 Agustus 2026
Waktu: 15.30 dan 19.30 WIB
Tempat: Gedung Putih, Bintaro
Direktur Artistik: Aksan Sjuman
Koreografer: Yudistira Sjuman (dua karya), Nudiandra Sarasvati, Wenny Halim, Althea Sri Bestari, Syanindita Prameswari, serta fragmen Serdtse karya Farida Oetoyo
Komposer: Aksan Sjuman, Indra Lesmana, dan Ura-Ura
Harga tiket: Mulai Rp200 ribu
Informasi tiket: goers.id/nadadibaliktubuh