Connect with us

EKSEKUTIF

Tugas Penyidik Narkotika Menangkap Pengedar Bukan Menangkapi Penyalahguna – MAJALAH EKSEKUTIF

Published

on


EKSEKUTIF.com –Tujuan UU narkotika yang berlaku sekarang ini secara ekplisit menyatakan; memberantas peredaran gelap narkotika dan menjamin pengaturan upaya rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial bagi penyalah guna (pasal 4).

Penyalah guna narkotika diancam secara pidana (pasal 127/1), kalau dilakukan assesmen dalam proses penyidikan, penyalah guna ini sebutannya berubah menjadi korban penyalahgunaan narkotika atau pecandu.

Disebut korban penyalah guna narkotika kalau hasil assesmennya, menyatakan penyalah guna sebagai pemakai pertama secara tidak sengaja mengkonsumsi narkotika karena dibujuk, ditipu, dirayu, diperdaya bahkan dipaksa menggunakan narkotika.

Disebut pecandu kalau menggunakan narkotika secara berulang, dengan pemakaian tertentu dan taraf kecanduan tertentu pula

Taraf kecanduan tersebut dapat dikatagorikan menjadi kecanduan ringan, sedang maupun berat, tergantung frekwensi pemakaian dan dosis pemakaiannya.

Pecandu dan korban penyalahgunaan narkotika tersebut berdasarkan ketentuan pasal 54 wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.

Dalam proses penyidikannya bila penyidik mengacu pada tujuan UU no 35 tahun 2009 tentang narkotika dan aturan pelaksanaannya maka penyalah guna wajib dilakukan assesmen dan ditempatkan kedalam lembaga rehabilitasi.

Lembaga rehabilitasi yang dimaksud adalah rumah sakit atau tempat rehabilitasi milik pemerintah yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan yang tersebar kab / kota di Indonesia, biaya perawatan ditanggung lembaga rehabilitasi dimana penyalah guna direhabilitasi.

Kewenangan menempatkan kedalam lembaga rehabilitasi diberikan kepada penyidik, selain penyidik penuntut umum dan hakim juga diberikan kewenangan menempatkan penyalah guna ke dalam lembaga rehabilitasi (pasal 13 PP 25/2011).

Kewenangan menempatkan kedalam lembaga rehabilitasi oleh penyidik, penuntut umum dan hakim, menjadi kewajiban penyidik, penuntut umum dan hakim, bukan atas permohonan keluarga atau tersangka/terdakwa.

Dalam memeriksa perkara pecandu, hakim diberi kewenangan oleh UU narkotika, dapat memutuskan dan menetapkan untuk memerintahkan terdakwanya menjalani rehabilitasi baik terbukti salah maupun tidak terbukti bersalah (pasal 103), yang sifat wajib.

Demikian pula terhadap korban penyalahgunaan narkotika, hakim berkewajiban memerintahkan yang bersangkutan menjalani rehabilitasi, khususnya rehabilitasi sosial.

Penyalahguna Wajib Mendapatkan Perawatan

Penyalah guna narkotika diwajibkan UU narkotika untuk melakukan wajib lapor (pasal 55) agar mendapatkan perawatan karena penyalah guna adalah penderia sakit adiksi ketergantungan narkotika dan ganguan mental.

Pertanyaan kritisnya, kenapa penyalah guna sebagai pelaku kriminal diwajibkan mendapatkan perawatan, kok tidak dipenjara ? Karena pembuat UU yaitu pemerintah dan DPR berkepentingan agar penyalah guna sembuh dan tidak mengulangi melakukan perbuatan untuk mengkonsumsi narkotika lagi.

Konsepnya, penyalah guna diwajibkan menjalani rehabilitasi meskipun diancam secara pidana, dan  penegakan hukum dilakukan secara rehabilitatif dengan menempatkan penyalah guna kedalam lembaga rehabilitasi selama proses pemeriksaan serta penjatuhan hukuman berupa menjalani rehabilitasi.

Konsep tersebut diatas, disepakatan pemerintah dalam konvensi internasional tentang narkotika,  yang kemudian menjadi dasar dibuatnya UU no 35/2009 tentang narkotika.

Oleh karena itu pemerintah memprioritaskan  penyalah guna narkotika menjalani rehabilitasi melalui program wajib lapor ke IPWL guna mendapatkan perawatan ketimbang ditangkap penyidik narkotika dan dibawa ke pengadilan dijatuhi hukuman rehabilitasi.

Program pemerintah wajib lapor dilakukan oleh penyalah guna dan khusus penyalah guna yang belum cukup umur atau belum dewasa, kewajiban lapor dilakukan oleh orang tuanya.

Kalau penyalah guna telah memenuhi kewajiban melaporkan diri untuk mendapatkan perawatan melalui rehabilitasi maka statusnya tidak dituntut pidana.

Artinya dalam rangka penanggulangan penyalahgunaan narkotika, pemerintah memprioritaskan penyalah guna mendapatkan upaya rehabilitasi melalui program wajib lapor dari pada melalui penegakan hukum dengan penjatuhan hukuman berupa rehabilitasi

Tugas Penyidik Narkotika

Mengacu pada tujuan UU narkotika yang  secara ekplisit menyatakan:  memberantas peredaran gelap narkotika dan menjamin penyalahguna mendapatkan upaya rehabilitasi (pasal 4).

Berdasar tujuan tersebut maka misi penyidik narkotika adalah memberantas peredaran gelap narkotika dan menjamin penyalah guna mendapatkan perawatan berupa rehabilitasi

Sehingga tugas penyidik narkotika adalah menangkap pengedar bukan menangkapi penyalah guna.

Maksudnya penyalah guna boleh ditangkap, kalau tujuannya untuk “memaksa” penyalah guna yang mbadel tidak mau mendapatkan perawatan atau penyembuhan atau untuk mendapatkan informasi siapa pemasoknya.

Sedangkan prestasi penyidik narkotika ditentukan secara kwantitas maupun kwalitas keberhasilan menangkap pengedar narkotika untuk dipenjarakan dan merampas aset pengedar dituntut dengan Tidak Pidana Pencucian Uang dan dilakukan pembuktian terbalik di pengadilan, bukan menangkapi penyalah guna untuk dipenjarakan.

Bukan tidak boleh menangkap penyalah guna, tetapi menangkap penyalah guna narkotika itu biaya penegakan hukumnya tinggi, terjadi residivisme penyalahgunaan narkotika, menghasilkan generasi sakit ketergantungan akan narkotika dan rawan terjadinya abuse of power atau korupsi dilingkungan penyidik narkotika.

Disamping itu, memenjarakan penyalah guna juga bertentangan dengan tujuaan UU no 35 tahun 2009 tentang narkotika dan merugikan keuangan negara.

Oleh karena itu pernyataan wakapolri komjend pol gatot sangat tepat dan rasional kalau penangkapan terhadap pengguna narkotika “akan dikurangi dan  pengguna lebih tepat direhabilitasi”.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah dengar pendapat dengan komisi III DPR RI (gema nusantara anti narkoba, senin 14/9/20).

Pertanyaannya kritisnya, kenapa penyidik narkotika masih terus menangkapi penyalah guna narkotika?

Tentu hanya penyidik narkotika atau kelembagaannya yang tahu jawabannya.

Menurut Justin B. Shapiro dalam penelitian tentang “Dekriminalisasi kepemilikan narkotika dalam jumlah kecil sebagai akibat kegagalan penegakan hukum di Meksiko”  menyimpulkan bahwa: menangkap dan menuntut para penyalah guna narkotika dan pecandu hanya akan menghambur hamburkan sumberdaya penegakan hukum serta mendorong korupsi di lingkungan polisi.

Korupsi tersebut timbul dimana para polisi dengan gaji kecil memangsa penyalah guna narkotika yang tidak berbahaya untuk mendapatkan pendapatan tambahan.

Hal ini menghancurkan integritas kepolisian, dan mengalihkan fokus kepolisian dari mengejar para pengedar narkotika.

Saya mengamini apa yang disampaikan Wakapolri Komjend Pol Gatot untuk mengurangi hasrat penyidik dalam upaya menangkap penyalah guna dan mengamini hasil penelitian Justin B Shapiro serta  menyarankan untuk dibuat petunjuk teknis penyidikan tindak pidana narkotika, yang sesuai dengan tujuan UU narkotika yang berlaku.

Sasaran tugas penyidik narkotika, adalah fokus memberantas peredaran gelap narkotika, dengan menangkapi pengedar atau pemasok narkotika.

Apabila penyalah guna dan orang tua penyalah guna tidak bersedia melaporkan diri untuk mendapatkan perawatan sesuai UU, maka penyidik baru melakukan penangkapan untuk selanjutnya ditempatkan kedalam lembaga rehabilitasi,

Penempatan kedalam lembaga rehabilitasi ini dalam rangka perawatan, bukan dalam rangka penahanan tetapi masa menjalani rehabilitasi dilembaga rehabilitasi diperhitungkan sebagai masa menjalani hukuman.

Artinya perlakuan selama dilembaga rehabilitasi, tidak sama dengan perlakuan selama ditahanan.

Dilembaga rehabilitasi, penyalah guna tidak akan melarikan diri dengan alasan menghilangkan barang bukti dan mengulangi perbuatannya karena penyalah guna sudah mendapatkan perawatan.

Penyalah guna sebagai orang sakit ketergantungan narkotika selama perawatan melalui proses rehabilitasi akan ditunggu dan diawasi oleh keluarganya.

Kalau ditahan justru malah penyalah guna berkesempatan mengulangi perbuatannya seperti selama ini terjadi.

Itulah tugas penyidik sesuai konstruksi UU no 35 tahun 2009 tentang narkotika, yang dibuat oleh pemerintah dan DPR bersumber dari konvensi, dengan mengintegrasikan pendekatan hukum pidana dan pendekan kesehatan sebagai bagian yang tidak terpisahkan.

Penulis adalah dosen, mantan Ka BNN dan mantan Kabareskrim.


“Saya mengamini apa yang disampaikan Wakapolri Komjend Pol Gatot untuk mengurangi hasrat penyidik dalam upaya menangkap penyalah guna dan mengamini hasil penelitian Justin B Shapiro serta  menyarankan untuk dibuat petunjuk teknis penyidikan tindak pidana narkotika, yang sesuai dengan tujuan UU narkotika yang berlaku.” — Anang Iskandar.

 





Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKSEKUTIF

Tingkatkan Ekonomi, KLHK Latih Masyarakat Kembangkan HHBK

Published

on

By


EKSEKUTIF.com – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyelenggarakan Kegiatan Bimbingan Teknis dan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Masyarakat di dalam Kawasan Hutan. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Masyarakat/Kelompok Tani Hutan dalam pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), serta meningkatkan daya beli untuk Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di masa Pandemi Covid-19.

Kegiatan ini sudah dilaksanakan serentak sejak Kamis (25/02/2021) secara virtual/online, terpusat di komplek kantor KLHK Jakarta. Dari sini pelatihan terhubung secara online dengan 68 lokasi di 21 Provinsi, melibatkan 1.830 orang peserta yang merupakan Masyarakat/Kelompok Tani Hutan binaan 76 Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), dan 50 UMKM.

Hadir dalam pembukaan bimbingan teknis pejabat struktural eselon I dan II KLHK, Bupati Kabupaten Bireun, Kepala Dinas yang membidangi Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kepala Balai Pengelolaan Hutan Produksi (BPHP) Wilayah I sd XVI; Kepala KPH, dan Masyarakat Tani Hutan.

Menteri LHK, Siti Nurbaya dalam sambutannya saat membuka kegiatan ini mengatakan, jika dikelola dengan baik HHBK kedepan akan menjadi mainstream/arus utama dalam pemanfaatan hutan di Indonesia yang akan mendorong bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Hasil Hutan Bukan Kayu dari kawasan hutan memiliki potensi yang sangat besar, dan memiliki peran signifikan terhadap peningkatan pendapatan rumah tangga masyarakat, peningkatan ekonomi lokal, dan kelestarian hutan itu sendiri,” ujarnya.

Menteri LHK juga menjelaskan, pelatihan ini untuk mendukung program pemberian akses legal pengelolaan hutan untuk masyarakat yang telah menjadi agenda besar Kementerian LHK, yang juga merupakan program prioritas Presiden. Pelatihan peningkatan kapasitas masyarakat ini akan meningkatkan keterampilan dan produktivitas masyarakat dalam memanfaatkan hutan terutama dari HHBK. Untuk itu dirinya meminta kerjasama semua pihak untuk mewujudkannya.

“Kiranya kerjasama tingkat lapangan KPH para birokrat para pembimbing lapangan, masyarakat tani dan dunia usaha sudah saatnya bisa dilakukan secara bahu membahu,” ujarnya.

Ditambahkan, kehadiran UU Cipta Kerja dan turunannya berupa Peraturan Pemerintah disebutnya juga semakin memperjelas langkah percepatan mensejahterakan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar kawasan hutan.

“Dalam PP No. 23 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Kehutanan sebagai peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja yang baru saja diterbitkan, disana ditegaskan bahwa kegiatan pemanfaatan HHBK dapat dilakukan dengan Multiusaha Kehutanan, dimana kegiatan usaha kehutanan dapat berupa usaha Pemanfaatan Kawasan, usaha Pemanfaatan HHK dan HHBK dan atau usaha Pemanfaatan Jasa lingkungan dengan tujuan untuk mengoptimalkan potensi kawasan hutan pada hutan lindung dan hutan produksi,” urainya.

Beberapa komoditi HHBK yang potensial dikembangkan antara lain Daun Kayu Putih, Kopi, Getah, Bambu, Jagung, Sereh Wangi, Rumput Gajah, Gula Aren, Gamal, Rotan, Aren, Cengkeh, Damar, Gaharu, Getah, Kulit Kayu, Kemenyan, Kemiri, Kenari, Madu, dan Sagu dan lain sebagainya

Untuk saat ini, HHBK katanya mulai menjangkau pasar ekspor seperti produk madu dan gaharu. “Saya kira dengan titik tolak kita bersama-sama memahami dan membangun bagaimana kita memperkuat langkah-langkah produktif HHBK ini, akan semakin meningkatkan ekspor kita,”jelasnya.

Potensi HHBK saat ini tercatat setidaknya sebesar 66 juta ton. Produksinya ditahun 2020 baru sebesar 558 ribu ton dengan PNBP Rp. 4.2 milyar. Tiga (3) Jenis HHBK dengan produksi tertinggi berasal dari HHBK kelompok getah sebanyak 126 ribu ton, kelompok biji-bijian sebanyak 114 ribu ton, dan kelompok daun/akar sebesar 63 ribu ton.

Kegiatan pelatihan Masyarakat/Kelompok Tani Hutan secara daring.

Pada kesempatan tersebut Menteri Siti juga memberi apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pemangku kepentingan, yaitu: Direktur Jenderal PHPL dan jajarannya, para Kepala Daerah, UPT Kementerian maupun UPT Dinas Provinsi di daerah, tenaga pendamping, para champion-champion lokal, para pelaku usaha swasta dan masyarakat. Menteri Siti mengapresiasi tinggi atas daya juang dan kesabaran yang tinggi ditengah segala keterbatasan dalam Pandemi Covid-19, sambil terus mengembangkan inisiatif dan inovasi dilapangan.

 

 

Harus Saling Bahu Membahu

Sejalan dengan hal tersebut Plt. Dirjen Pengelolaa Hutan Lestari (PHL), Bambang Hendroyono menyatakan jika semua pihak harus saling bahu membahu membantu masyarakat melewati Pandemi Covid-19 ini. Dia berujar bahwa Direktorat Jenderal yang dipimpinnya pun mendukung program pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan hutan.

“Kegiatan Bimbingan Teknis dan Pelatihan ini, serta pemberian bantuan Alat Usaha Ekonomi Produktif Masyarakat yang diperuntukan bagi Masyarakat yang memiliki akses legal di 16 Wilayah Kerja UPT BPHP adalah upaya untuk meningkatkan ketahan ekonomi masyarakat di tengah masa Pandemi Covid-19 melalui peningkatan pengetahuan dan ketrampilan serta daya beli,” jelasnya.

Kegiatan Bimbingan Teknis Dan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Masyarakat di Dalam Kawasan Hutan ini dilandasi semangat “Maju Bersama Sejahterakan Masyarakat”.

Jenis Bimtek/Pelatihan yang diberikan berupa Bimtek/Pelatihan Pengembangan HHBK, Bimbingan Teknis Perencanaan Hutan, Bimbingan Teknis Penatausahaan Hasil Hutan, Pelatihan dan Pembentukan Masyarakat Peduli Api (MPA), serta Bimbingan Teknis Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK).

Pada kesempatan ini juga terlibat 26 Kelompok Masyarakat Mitra IUPHHK-HA dan 20 Kelompok Masyarakat Mitra IUPHHK-HT yang mengikuti Bimtek/Pelatihan dengan total masyarakat yang terlibat 766 orang untuk E-Learning Bimtek SILIN Masyarakat Mitra IUPHHK-HA dan Bimtek Pengembangan Usaha Produktif Masyarakat Mitra IUPHHK-HT. (ACH)



Sumber Berita

Continue Reading

EKSEKUTIF

Harlah NU ke-98, NU Care Salurkan Perahu Karet di Wilayah Terdampak Banjir

Published

on

By

Bantuan diterima langsung oleh Ketua NU Care-LAZISNU Jateng, Muhammad Mahsun. FILE/LAZISNU/Wahyu Noerhadi


Eksekutif.com – Pengurus Pusat (PP) NU Care-LAZISNU bersama PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart) menyalurkan bantuan berupa perahu karet di tiga wilayah terdampak banjir, yaitu Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DKI Jakarta.

Adapun bantuan tersebut berasal dari penghimpunan donasi konsumen Alfamart selama Januari 2021.

“Alhamdulillah, hasil kerjasama kami dari Alfamart dengan LAZISNU dalam program penghimpunan donasi konsumen Alfamart pada bulan Januari 2021, telah tersalurkan kembali kepada masyarakat, melalui LAZISNU,” ucap Corporate Communication GM Alfamart, Nur Rachman, via pesan tertulis, pada Ahad (28/02/2021) di Jakarta.

Rachman berharap bantuan tersebut dapat bermanfaat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang terdampak banjir di tiga provinsi.

Sementara itu, Penanggungjawab Program kerjasama NU Care-LAZISNU dan Alfamart, Nur Hasan, menyampaikan bahwa penyaluran bantuan tersebut, juga bagian dari peringatan Harlah ke-98 NU versi hijriah, yang jatuh pada 16 Rajab 1442 atau 27 Februari 2021.

“Dalam rangka memperingati Puncak Harlah NU yang ke-98, semalam (Sabtu) PBNU menggelar Tahlil Muassis NU dan Doa untuk Keselamatan Bangsa di Masjid Istiqlal, Jakarta. Kemudian hari ini (Ahad) kami NU Care-LAZISNU dalam bendera NU Peduli Kemanusiaan bergerak ke Semarang, untuk menyalurkan bantuan ke warga terdampak banjir, hasil kerjasama dengan Alfamart. Ini (bantuan) bagian dari peringatan Puncak Harlah NU juga,” papar Hasan.

Bantuan perahu karet itu diserahkan oleh PP NU Care-LAZISNU ke Ketua Pengurus Wilayah (PW) NU Care-LAZISNU Jawa Tengah di Gedung PWNU Jateng, Jl Dokter Cipto, No.180, Karangtempel, Semarang.

“Bantuan diterima langsung oleh Ketua NU Care-LAZISNU Jateng, Muhammad Mahsun, untuk program penanganan musibah banjir yang melanda Kota Semarang, Kendal, Demak, Kudus, Kabupaten Pati, dan wilayah lainnya di Jawa Tengah,” jelas Hasan.

Hasan juga menjelaskan, bantuan serupa disalurkan di Jawa Timur dan DKI Jakarta, sebagai upaya penanganan banjir yang dilakukan oleh Tim NU Peduli Kemanusiaan.

“Untuk kebutuhan operasional, maka perahu karet ini menjadi kebutuhan mendesak untuk penyaluran bantuan makanan, logistik ke warga terdampak banjir, yang di beberapa daerah ketinggian air bisa mencapai dada orang dewasa. Bantuan juga disalurkan untuk penanganan banjir di Jawa Timur dan DKI Jakarta,” ucapnya

Dirinya menambahkan bahwa kerjasama yang terjalin dengan Alfamart sudah berjalan selama empat tahun, terhitung sejak 2017, dengan berbagai program di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan kemanusiaan.



Sumber Berita

Continue Reading

EKSEKUTIF

5 Kunci Hidup Bahagia – MAJALAH EKSEKUTIF # terbit sejak 1979 –

Published

on

By


Terkadang keterpurukan dalam hidup terjadi manakala kita terlalu memikirkan standar bahagia yang terlalu tinggi.

Nyatanya hidup bahagia tak perlu standar yang terlalu tinggi, bergelimpangan harta, punya jabatan ataupun status sosial yang terpandang, atau lain sebagainya yang membuat hidupmu semakin tertekan.

Standar bahagia kita yang tentukan, tak perlu ikut-ikutan pada standar kebahagiaan orang lain yang sulit untuk kita jangkau.

Belajarlah untuk mensyukuri kehidupan yang mana dengan bersyukur kita akan senantiasa merasa berkecukupan dan dipenuhi kebahagiaan.

Selain itu ada beberapa hal yang perlu kita lakukan juga, manakala kita ingin memulai hidup bahagia, diantaranya :

1. Tidak membenci

Kebencian adalah salah satu emosi terkuat yang bisa kita rasakan. Membenci lebih dari sekadar tidak menyukai seseorang atau menganggapnya menjengkelkan, hal itu akan membuatmu sulit berhenti memikirkannya. Kebencian dapat memunculkan keinginan untuk menyakiti atau membuat orang yang dibenci malu.

Membenci seseorang bisa sangat melelahkan. Demi kebaikanmu sendiri, hentikan kebencian, tidak peduli apakah orang ini memang layak dibenci atau tidak, yang terpenting pikirkan tentang kehidupanmu yang lebih berarti daripada terus-menerus menghabiskan waktu untuk membenci.

Daripada membenci orang lain lebih baik gunakan energi untuk hal-hal yang membuat kehidupanmu terasa lebih menyenangkan dan lebih berkembang.

Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang bisa menghilangkan kebiasaan negatif ternyata hidupnya lebih sehat dan bahagia.

2. Mudah memaafkan

Kalau kita dipermalukan, pasti ingin pula mempermalukannya.

Jika kita dicela, pasti ingin pula membalas dengan celaan.

Hampir watak setiap orang yang disakiti dan dizalimi seperti itu. Namun ada baiknya sifat seperti itu kita ganti, cobalah untuk mengalah dan mengakhiri akhir dari setiap permasalahan yang ada.

Ketika kita dipermalukan dan dihina, maka kita tidak perlu balas dengan menghina dan mencela orang tersebut walau kita tahu kekurangan yang ada pada dirinya dan bisa menjatuhkannya.

Cobalah untuk memaafkan nya, memaafkan bukan berarti mengampuni perbuatan orang lain yang menyakitkan, melainkan sebagai cara agar kita bisa melanjutkan kehidupan yang lebih baik dan lebih bahagia. Pada akhirnya, apa yang kita lakukan ini adalah untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain.

Memaafkan atau memberi maaf jelas bukan hal yang mudah. Berdamai dengan diri sendiri, keadaan, dan mereka yang menyakiti memang bukan perkara gampang. Tapi sadarkah kita bahwa ada sekian kebaikan yang akan didapat ketika mau memaafkan? Bukankah keberanian itu juga akan “dibayar” setimpal dengan kebahagiaan yang kita rasakan setelahnya? Jadi mulai dari sekarang belajarlah menjadi seorang pemaaf agar hidup yang kita jalani penuh dengan ketenangan serta kebahagiaan.

3. Tidak mengeluh

Ketika menghadapi kenyataan yang tidak sesuai harapan, kita kerap kali tergoda untuk mengeluh. Mulailah dari sekarang teruntuk mengubah kebiasaan ini. Lebih baik berhenti mengeluh dan segera produktif berkarya sehingga hasil yang baik akan kita dapat dan jelas dengan berhenti mengeluh secara otomatis kita akan lebih mudah bagi untuk mensyukuri segala karunia dan nikmat yang Tuhan berikan, dan dengan bersyukur tentunya rentang hidup bahagia akan lebih terasa dekat.

4. Tidak dengki dan iri hati

Iri dan dengki adalah dua sifat yang tidak baik yang ada pada diri seseorang, yang mana sifat ini akan membuat orang tersebut selalu merasa tidak senang dan tidak rela jika melihat orang lain mendapat kebahagiaan dan kebaikan dalam kehidupannya.

Bersyukur dalam menjalani kehidupan merupakan salah satu cara menghindari perilaku tercela ini agar hati menjadi bersih dan selalu positif dalam berprasangka kepada orang lain.

Sifat iri hati dan dengki tidak akan membawa kebaikan untuk diri dan kehidupan kita. Hati akan menjadi kotor dan selalu berprasangka buruk kepada orang lain. Hidup kita juga akan jauh dari ketenangan karena selalu merasa sakit hati dan tidak senang setiap kali melihat orang di lingkungan kita mendapatkan keberuntungan.

Orang yang suka iri dan dengki sangat rentan juga terkena stres, mengapa demikian? Karena setiap kali ia melihat kesuksesan, keberhasilan dan kebaikan yang menimpa orang lain ia selalu merasa tidak senang, tersaingi dan akan membuat ia menjadi uring-uringan.

Jadi bagaimana bisa bahagia jika hati dipenuhi oleh rasa iri dan dengki terhadap orang lain? Yang ada ia akan merasa susah setiap kali ada orang yang mendapat kebaikan dalam hidup.

Agar hidup bisa bahagia tinggalkan sifat ini dengan cara merubah diri menjadi lebih baik.

5. Selalu tersenyum

Maksudnya jalani kehidupan dengan senyuman, tak peduli seberapa berat beban yang kita pikul, tak peduli seberapa besar rintangan yang menghadang, cobalah teruntuk tersenyum maka semua bebanmu akan terasa lebih ringan.

Senyum menunjukkan adanya keinginan untuk berbagi, rasa peduli, dan bersahabat. Tersenyumlah maka kau akan merasa damai. Jangan buat hidupmu terpuruk dalam kesedihan, ubah air matamu menjadi senyum, maka kau akan melihat betapa indahnya dunia ini.

Semoga 5 kunci kebahagiaan hidup diatas menjadi pedoman bagi kita semua, tetap berpikir positif dan selalu berdoa!

 

 

 



Sumber Berita

Continue Reading
Advertisement
  • Sebuah galat telah terjadi, yang kemungkinan berarti umpan tersebut sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Trending