Connect with us

BERITA ENAM

HUT Pomal ke-75 – Beritaenam.com

Published

on


Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono mengatakan Polisi Militer Angkatan Laut (Pomal) dituntut lebih terampil dalam mencegah dan menangani setiap pelanggaran disiplin, maupun menjauhkan prajurit TNI AL dari segala bentuk tindak pidana.

Yudo pada hari ulang tahun (HUT) Pomal ke-75 di Jakarta, Kasal mengatakan bahwa tuntutan tersebut dapat terlaksana apabila memiliki prajurit Pomal terus berdedikasi, kredibel dan profesional serta membenahi organisasi berlandaskan pada kesiapan personel, kesiapan materiil Pomal yang didukung dengan perangkat lunak serta penyelenggaraan dukungan yang baik.

Pernyataan itu disampaikan Kasal saat menghadiri peringatan HUT di Lapangan Apel Markas Komando (Mako) Pusat Polisi Militer Angkatan Laut (Puspomal) Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara.

Yudo juga mengatakan bahwa Polisi Militer Angkatan Laut merupakan figur prajurit yang harus memegang teguh semboyan “Wijna Wira Widhayaka”.

Semboyan itu artinya prajurit penegak aturan yang berwatak kesatria, arif dan bijaksana serta senantiasa menjunjung tinggi prinsip kebenaran.

Kasal meminta setiap prajurit Pomal menjadi teladan dan panutan dalam pelaksanaan tugas sesuai dengan hukum, Undang-Undang dan peraturan yang berlaku.

“Saya berharap Polisi Militer Angkatan Laut dapat terus mengedepankan sinergi dan soliditas TNI-Polri sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi), serta menciptakan situasi kondusif antar-instansi penegak hukum dengan mendukung program pemerintah dalam rangka percepatan penanggulangan COVID-19, pemulihan ekonomi nasional dan program vaksinasi nasional,” ujar Yudo.

Peringatan HUT ke-75 Pomal diawali dengan pengangkatan Kasal sebagai Warga Kehormatan Polisi Militer TNI Angkatan Laut, ditandai dengan pembacaan Surat Keputusan dan Prosesi Pembaretan Kasal Laksamana TNI Yudo Margono oleh Komandan Pusat Polisi Militer Angkatan Laut (Danpuspomal) Laksamana Muda TNI Nazali Lempo.

Sinergi dan soliditas TNI-Polri juga ditampilkan pada kegiatan tersebut, terutama saat pelaksanaan demonstrasi keterampilan mengendarai motor, dilanjutkan dengan pemberian kue ulang tahun dan tumpeng dari Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi Muhammad Fadil Imran, serta pertunjukan demonstrasi freestyle motor gede Aswatama Wira Pratama gabungan dari Korps Wanita Angkatan Laut (Kowal) dan Polisi Wanita (Polwan).

Kegiatan itu dihadiri pula oleh Ketua Umum Jalasenastri Vero Yudo Margono, Inspektur Jenderal Angkatan Laut (Irjenal) Laksamana Muda TNI Moelyanto, Koordinator Staf Ahli (Koorsahli) Kasal Laksamana Muda TNI S. Thamrin, para Asisten Kasal, para Kepala Dinas jajaran Mabesal, dan para Pimpinan Kotama TNI AL Wilayah Jakarta, serta para mantan Danpuspomal dari masa ke masa.



Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA ENAM

Sepeda Dikenakan PPH? – Beritaenam.com

Published

on

By


Pelaporan harta di lampiran SPT PPh orang pribadi akan jatuh tempo akhir Maret ini.

Kantor pajak sangat menginginkan agar di masyarakat tercipta kepatuhan sukarela (voluntary compliance) sehingga target penerimaan pajak dapat tercapai dan tax ratiomeningkat.

Yang banyak dibahas adalah soal sepeda, yang kabarnya juga harus dilaporkan dalam sistem perpajakan. Wajib Pajak dipersilakan melaporkan penghasilan dan harta di SPT mereka.

Akun Instagram @ditjenpajakri baru-baru ini menyatakan bahwa sepeda sebagai harta yang harus dilaporkan di dalam surat pemberitahuan (SPT) Tahunan orang pribadi dengan kode 041.

Banyak kalangan masyarakat yang mempertanyakan apakah sepeda masuk ke dalam jenis objek pajak yang baru atau dikenai pajak baru.

“Sepeda tidak akan dikenai pajak, tapi sumber penghasilan untuk beli sepeda itu menjadi isu utamanya,” kata Prianto Budi Saptono, Direktur Eksekutif Pratama-Kreston Tax Research Institute (TRI).

Prianto menyebut, rumus penghasilan = konsumsi + tambahan harta dapat terpenuhi. Dengan kata lain, penghasilan orang pribadi harus sebanding dengan konsumsi dan tambahan harta kekayaannya.

Kantor pajak selanjutnya melakukan pengawasan dengan cara data matching.

Indonesia saat ini sudah punya 24 jenis pajak. Ada 5 pajak dikelola oleh Ditjen Pajak. Ditjen Bea Cukai kelola 3 jenis pajak. Ada 5 macam pajak di pemerintah provinsi dan 11 jenis pajak di pemerintah kabupaten/kota.

Isu sepeda dilaporkan di SPT Tahunan itu berkaitan dengan satu jenis pajak yang dikelola Ditjen Pajak, yaitu Pajak Penghasilan atau PPh.

Jadi, penghasilan yang dapat dikenai PPh itu berupa tambahan kemampuan ekonomis dengan nama dan dalam bentuk apa pun.

bilang rumus sederhananya adalah penghasilan = konsumsi + tambahan harta. Artinya, penghasilan itu dapat dipakai untuk konsumsi maupun menambah harta kekayaan.

“Nah, sepeda itu merupakan satu bentuk harta kekayaan sehingga Ditjen Pajak berkepentingan terhadap apakah penghasilan untuk beli sepeda itu sudah dilaporkan di SPT PPh orang pribadi,” ujar  Priatno.

Kalaupun tidak berwujud tunai, penghasilan orang pribadi juga dapat berupa non-tunai. Misalnya, pemberian hadiah atau sumbangan dari pihak lainnya.

Imbalan non-tunai itu juga memberikan tambahan kemampuan ekonomis bagi penemanya. Jika penghasilan untuk beli sepeda tersebut berasal dari warisan, penerima waris juga harus melaporkan warisan tersebut sebagai penghasilan di SPT.

Selanjutnya, sesuai undang-undang PPh, Ditjen Pajak dapat menentukan apakah semua penghasilan sudah dilaporkan ke dalam SPT.

Selain itu, kantor pajak juga dapat menentukan penghasilan mana saja yang harus dipajaki atau tidak perlu kena pajak.

Menurut Priatno, posting-an Ditjen Pajak tersebut tidak terlepas dari upaya pengawasan berdasarkan Compliance Risk Management (CRM).

Kantor pajak mengawasi siapapun yang berpotensi tidak patuh pajak dengan cara pemberian himbauan dulu. Dari data-data yang kantor pajak punya, petugas pajak akan melakukan analisis risiko. Untuk kasus sepeda, contohnya diilustrasikan di bawah ini.

Misalnya, Budi (bukan nama sebenarnya) memiliki gaji Rp 5 juta per bulan. Jika disetahunkan, total penghasilan Budi sebesar Rp 60 juta. Biaya hidup rata-rata per bulan Budi sebesar Rp 4 juta sebulan sehingga Budi bisa menabung Rp 1 juta. Ketika Budi melaporkan sepeda Brompton seharga Rp 50 juta di SPT, total penghasilan Budi (Rp 60 juta) tidak sebanding dengan konsumsi rata-rata setahun plus tambahan harta sepeda.

Secara ringkas, penghasilan Rp 60 juta lebih kecil dari konsumsi setahun (Rp 48 juta) dan harta sepeda Rp 50 juta. Jadi, sangat wajar jika kantor pajak bertanya selisih Rp 38 juta (Rp 98 juta – Rp 60 juta) berasal dari penghasilan apa.

“Apakah penghasilan itu merupakan objek pajak atau non-objek pajak? Pada akhirnya, petugas pajak dapat meminta klarifikasi Budi tentang selisih Rp 38 juta tersebut. Bila tidak dapat menjelaskan, Budi berpotensi harus menambah PPh yang berasal dari selisih tersebut,” ujar dia.

 



Sumber Berita

Continue Reading

BERITA ENAM

Persatuan Dukun Nusantara Mendapat Ragam Respon

Published

on

By


Berita yang dimuat kantor berita VOA demikian menggelitik. Sejumlah pelaku ilmu supranatural di Banyuwangi, Jawa Timur berkumpul, dan berencana mendirikan sebuah organisasi payung yang disebut sebagai Persatuan Dukun Nusantara atau Perdunu.

Organisasi tersebut, menurut Ketua Umum Perdunu, Abdul Fatah Hasan, ditujukan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat dan perberdayaan untuk pelaku supranatural. Misalnya, jangan sampai ada tipu-tipu dalam praktiknya.

“Kasus-kasus yang terjadi banyak sekali, terkait dengan aktivitas dukun dan perdukunan, yang berpotensi terjadi penipuan. Di media sosial itu banyak juga yang promosi menyediakan jasa supranatural dan sejenisnya. Ini kan potensi adanya penipuan,” kata Gus Fatah, panggilan akrabnya.

Gus Fatah mengaku pilihan pemilihan istilah dukun sudah dilakukan dengan cermat. Dalam budaya tradisional Indonesia, dukun adalah profesi yang akrab bagi masyarakat. Ada dukun bayi, dukun pijat dan sejenisnya, yang memberi bantuan logis dan tidak logis, kata Gus Fatah.

Sayangnya, istilah itu kemudian memiliki makna negatif, padahal kegiatan yang dilakukan banyak yang positif.

“Kita mencoba membuat organisasi yang modern. Bagaimana bisa berkontribusi, karena memang masalah-masalah yang terjadi di masyarakat ini tidak semua bisa diselesaikan “secara logis”. Menghadapi problematika itu, Perdunu memang harus hadir,” tambah Gus Fatah meyakinkan.

Para dukun Tengger duduk saat Festival Kasada di Gunung Bromo di Probolinggo, Jawa Timur, 1 Agustus 2015. (Foto: REUTERS/Beawiharta)
Para dukun Tengger duduk saat Festival Kasada di Gunung Bromo di Probolinggo, Jawa Timur, 1 Agustus 2015. (Foto: REUTERS/Beawiharta)

Kontak sudah dijalin dengan banyak pelaku supranatural khususnya di Jawa. Sebuah perjalanan spiritual dari Jawa Timur hingga ke ujung barat Jawa, bahkan sudah dirancang untuk bertemu tokoh-tokoh lokal dalam bidang ini.

Gus Fatah meyakini ini adalah saat yang tepat bagi pelaku spiritual yang sering disebut dukun ini, untu berorganisasi secara modern.

Gebrakan di Banyuwangi tak kalah mengagetkan. Mereka berencana menggelar Festival Santet, yang segera mengundang kontroversi.

Perdunu berencana mencari nama lain untuk festival ini, yang sebenarnya merupakan kegiatan tahunan setiap bulan Suro sesuai kalender Jawa.

Santet, tutur Gus Fatah, sebenarnya bukanlah hal mengerikan di Banyuwangi. Barangkali, masyarakat membayangkan hal-hal buruk, seperti yang mereka tonton di film. Perdunu bertekad memperbaiki cara pandang yang keliru mengenai santet Banyuwangi itu.

Gus Fatah adalah pengasuh Pondok Pesantren al-Huda, Blimbingsari, yang juga anggota Lembaga Bahtsul Masa’il ,Pengurus Cabang (PC) Nahdlatul Ulama (NU) Banyuwangi. Supranatural, ujarnya, diajarkan di pondok-pondok di masa lalu, dan kitabnya masih tersimpan disana.

Perdunu berniat mengembalikan kajian bidang ilmu ini, dengan kurikulum yang lebih baik.

Pemaknaan Santet Berbeda

Sebuah diskusi terkait santet diselenggarakan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada.

Berbicara dalam acara ini, akademisi sekaligus peneliti dari FIB Universitas Jember, Heru SP Saputra. Ia memahami seluk beluk santet, khususnya mantra di dalam kebudayaan masyarakat adat Osing di Banyuwangi, karena pernah melakukan penelitian untuk studi doktoralnya.

Di awal paparan, Heru menegaskan diskusi terkait santet digelar para akademisi, tidak terkait pendirian Perdunu. Dia juga menegaskan, sudut pandang yang benar harus digunakan jika berbicara tekait santet di Banyuwangi.

Akademisi FIB Universitas Jember, Heru SP Saputra. (Foto: VOA/Nurhadi)
Akademisi FIB Universitas Jember, Heru SP Saputra. (Foto: VOA/Nurhadi)

“Santet ini sebenarnya istilah yang masih debatable, dalam arti kita arus memahami santet Osing ini dalam konteks orang Osing. Karena kalau kita memahami dalam konteks diluar orang Osing, maknanya jadi berbeda,” kata Heru.

Perbedaan konteks ini pula, barangkali yang membuat Festival Santet yang akan digelar Perdunu menjadi kontroversi. Padahal bagi masyarakat Osing dan Banyuwangi secara umum, itu adalah hal yang biasa.

Santet, kata Heru, sering dipahami sebagai tindakan untuk menyakiti, padahal sebenarnya tidak. Konteks santet dalam budaya Osing adalah pengasihan atau cinta kasih.

Berdasar penelitiannya, Heru memaparkan alam budaya masyarakat Banyuwangi, ilmu-ilmu dibedakan menjadi empat, yaitu hitam, merah, kuning dan putih. Ilmu hitam tentu istilah yang akrab di dengar. Santet berada dalam kelompok ilmu merah dan kuning.

“Dalam konteks masyarakat Banyuwangi, kita tidak boleh menilai ini selalu jelek. Ada satu perspektif yang dalam konteks masyarakat lokal, ini untuk sarana membangun kelurrga. Misalnya jika laki-laki atau perempuan tidaka laku-laku,” kata Heru.

Kesulitan menemukan jodoh itulah yang kemudian jalan keluarnya, antara lain diupayakan melalui santet ini. Mantera memiliki peran besar dalam santet, karena menjadi kata-kata kuat yang memberikan sugesti.

Dalam kebudayaan India dan juga Bali, mantera juga dikenal karena kemampuannya dalam memberikan sugesti kepada seseorang. Mantera ini pulalah yang masuk dalam tradisi lisan di banyak suku di Indonesia.

Menurut Heru, mantera membangun sugesti yang dibangun dari teks.

Ketika agama Islam masuk ke Banyuwangi, santet dan mantera bergumul dan saling terikat karena masyarakat Osing memasukkan pengaruh Islam di dalamnya.

Karena itulah, dalam praktik santet saat ini, mantera yang digunakan banyak menggunakan kata-kata yang ditemukan dalam khazanah agama.

“Jauh sebelum Islama masuk Banyuwagi, sudah marak mantera. Ketika datang Islam, dianggap tidak bertentangan. Tradisi Islam dengan doa-doa itu disatukan oleh orang Osing, sehingga datangnya Islam dimanfaatkan untuk memperkuat mantera Osing,” tambah Heru.

Seorang dukun meletakkan sesaji saat festival Cap Go Meh di Jakarta pada 6 Februari 2012. Cap Go Meh merupakan penutup acara perayaan Imlek. (Foto: AFP/Adek Berry)
Seorang dukun meletakkan sesaji saat festival Cap Go Meh di Jakarta pada 6 Februari 2012. Cap Go Meh merupakan penutup acara perayaan Imlek. (Foto: AFP/Adek Berry)

Magis, Sains dan Agama

Antropolog Universitas Gadjah Mada, Prof Heddy Shri Ahimsa Putra menyebut, penelitian Heru Saputra membawa pemahaman baru.

Ada perbedaan pemaknaan mengenai santet, yang di Banyuwangi tidak negatif dan menjadi persoalan sangat biasa dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita punya pola pengetahuan yang baru, sains dari Barat kadang-kadang melihat fenomena begini seperti takhayul, tetapi ternyata kita tidak bisa mengatakan ini takhayul. Kalau dalam istilah antropologi, ini etno sains. Ini etno sains-ya orang Banyuwangi,” ujar Heddy.

Antropolog UGM, Prof Heddy Shri Ahimsa Putra. (Foto: Courtesy/FIB UGM)
Antropolog UGM, Prof Heddy Shri Ahimsa Putra. (Foto: Courtesy/FIB UGM)

Ada kerangka berpikir magis, ilmu pengetahuan, dan keagamaan yang harus dipahami. Pola pikir, lanjut Heddy, mempengaruhi perilaku tanpa disadari. Jika kita memahami pola pikir ini, ujarnya lagi, kita akan bisa memahami pandangan masyarakat itu dan pola perilakunya.

“Saya kira, ini hal yang sangat penting. Orang kemudian sadar bahwa santet itu maknanya bisa berbeda di satu daerah dengan daerah yang lain. Dan saya kira, itu menunjukkan bagaimana variasi budaya kita,” papar Heddy.

Soal santet di Banyuwangi ini, tambah Heddy, tidak bisa dilepaskan dari buku Bronislaw Malinowski, berjudul “Magic, Science and Religion.” Begitu juga pemikiran dari Émile Durkheim dalam bahasan yang sama, terkait bagaimana posisi dunia magis, agama dan upaya manusia membangun ilmu pengetahuan.

Indonesia, kata Heddy, sangat kaya dengan tradisi semacam ini, khususnya penggunaan mantera dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, akan sangat menarik jika ada studi komparasi, terutama dari kawasan-kasawan yang memiliki potensi besar terkait keilmuan semacam ini, seperti Banyuwangi sendiri, suku Dayak di Kalimantan dan juga Banten.

“Saya pernah membimbing disertasi mengenai mantera di suku Bajo. Orang Bajo ini manteranya juga banyak sekali, dan itu untuk hidup sehari-hari, untuk mencari ikan, untuk mendapatkan rejeki. Saya kira, dalam kehidupan masyarakat kita di Indonesia, ini hal-hal yang sangat biasa, namun sekaligus menarik,” tambah Heddy.

 



Sumber Berita

Continue Reading

BERITA ENAM

Viral Komite Etika Berinternet dan Netizen Tidak Beradab

Published

on

By


Dalam konferensi pers virtual, Menteri Kominfo Johnny G. Plate mengatakan pembentukan komite itu merupakan bagian dari arahan Presiden Joko Widodo 15 Februari lalu agar dunia maya Indonesia.

Tujuannya agar netizen menjadi lebih “bersih, sehat, beretika, penuh sopan santun, bertata krama, produktif dan mampu memenuhi rasa keadilan bagi masyarakat.”

Johnny G. Plate juga menyebut hasil survei digital Microsoft yang menilai netizen Indonesia memiliki tingkat keberadaban (civility) yang rendah.

Dari 32 negara yang disurvei, Indonesia ada di peringkat 29 atau yang terburuk di Asia Tenggara.

Tingkat keberadaban netizen ini diukur dari persepsi netizen terhadap risiko yang mereka dapatkan di dunia maya, misalnya dari penyebarluasan berita bohong atau hoaks, ujaran kebencian atau hate speech

Juga soal diskriminasi, misogini, cyberbullying, trolling atau tindakan sengaja untuk memancing kemarahan, micro-aggression atau tindakan pelecehan terhadap kelompok marginal (kelompok etnis atau agama tertentu, perempuan, kelompok difabel, kelompok LGBTQ dan lainnya).

Banyak penipuan, doxing atau mengumpulkan data pribadi untuk disebarluaskan di dunia maya guna mengganggu atau merusak reputasi seseorang, hingga rekrutmen kegiatan radikal dan teror, serta pornografi.



Sumber Berita

Continue Reading
Advertisement
  • Sebuah galat telah terjadi, yang kemungkinan berarti umpan tersebut sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Trending