#  

Peranan Industri TPT dalam Menunjang Kebangkitan Ekonomi Nasional

[ad_1]

 

Industri TPT ( Tekstil dan Produk Tekstil )   termasuk salah satu sektor industri manufaktur yang sangat terpukul di era pandemi seperti ini. Industri TPT memiliki rentang hulu-hilir yang panjang dan mampu menyerap banyak tenaga kerja dan melakukan padat karya. Oleh karenanya peranan industri TPT sangat besar sekali dalam upaya menunjang kebangkitan Ekonomi Nasional pasca Pandemi.

Hal itulah yang menjadi salah satu pokok bahasan yang dipaparkan dalam acara Webinar Nasional bertajuk INDONESIA SEHAT dan MAJU: Kebangkitan Ekonomi Pascapandemi yang diselenggrakan pada

Acara yang digelar  Rabu 10 Maret 2021, merupakan acara yang digelar oleh PARA Syndicate  dalam rangka turut memaknai satu tahun merebaknya Pandemi Covid-19 sebagai momentum kebangkitan ekonomi.

Acara yang digelar secara daring  dengan moderator Ari Nurcahyo ,  Direktur Eksekutif PARA Syndicate tersebut menghadirkan salah satu pembicaranya  yaitu Jemmy Kartiwa Sastraatmadja, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) yang memaparkan tentang  industri Tekstil dan Produk Tekstil  (TPT).

Selain Jemmy,  hadir pula Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Fraksi PDI Perjuangan, Aria Bima; Ekonom, Rektor Unika Atma Jaya Jakarta Dr. A. Prasetyantoko; dan Pengusaha, CEO PT Bogasari Flour Mills Franciscus Welirang; serta Sekretaris Eksekutif I Komite Penanganan Covid-19 Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) Raden Pardede PhD sebagai Key-note Speaker, menggantikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Dr. Ir. Airlangga Hartarto yang berhalangan hadir.

Dalam Webinar yang diikuti oleh sekitar 150 audience baik di ruang virtual Zoom Meeting maupun lewat kanal Youtube ini, Jemmy membawakan sub-segmen Prospektus Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) dalam Menunjang Kebangkitan Ekonomi Nasional.

“Dalam konteks hari ini, narasi kebangkitan ini penting karena selama pandemi TPT termasuk salah satu sektor industri manufaktur yang sangat terpukul padahal industri ini memiliki rentang hulu-hilir yang panjang dan mampu menyerap banyak tenaga kerja dan melakukan padat karya,” ungkap Jemmy dalam paparannya.

“Akibat pandemi Covid-19, menurut catatan BPS, industri manufaktur tekstil dan pakaian jadi,  yang pada triwulan III tahun 2019 mencatatkan pertumbuhan paling tinggi sebesar 15,08 persen, harus mengalami keterpurukan. Padahal, industri tekstil dan pakaian jadi ini sebelumnya digadang-gadang menjadi salah satu dari lima sektor manufaktur yang diprioritaskan pengembangannya, terutama dalam kesiapan memasuki era industri 4.0,”tambah Jemmy.

Lebih lanjut Jemmy mengungkapkan bahwa untuk menunjang kebangkitan industri TPT, disayangkan masih adanya ganjalan besar yang harus dihadapi oleh banyak pelaku industri, salah satunya adalah masalah sulitnya akses permodalan.

“Ini menambah panjang deretan permasalahan yang dihadapi setelah  terjadinya banyak penundaan kontrak dan pembayaran, kenaikan harga bahan baku, nilai tukar yang bergejolak, kesulitan transportasi logistik selama pandemi, pengurangan pegawai, pembatasan jam operasional, hingga kenaikan biaya pengapalan dan masih banyak lagi lainnya, “ jelasnya.

“ Atas berbagai permasalahan ini, dibutuhkan adanya insentive dan berbagai kelonggaran karena  industri TPT di tanah air masihlah sangat berpotensi untuk kembali bangkit di tengah pandemi Covid-19 dan kembali berkembang, “ tegasmya.

Industri TPT sempat mengalai perlambatan pertumbuhan pada Q1 dan Q2 tahun 2020 yang disebabkan oleh berhentinya kegiatan perdagangan di dalam dan luar negeri karena pandemi Covid-19.

“Tetapi pada Q3 dan Q4 industri TPT berhasil bangkit kembali, terbukti dengan meningkatnya tingkat utilisasi, peningkatan penyerapan tenaga kerja, serta peningkatan  PMI industri manufaktur,” kata Jemmy.

Pada QI 2021, terjadi lagi penurunan performa karena penerapan kebijakan PPKM Mikro karena pembatasan jam buka peritel dibatasi sehingga otomatis membatasi akses konsumen.

“Oleh sebab itu, industri TPT mengharapkan adanya pelonggaran PPKM Mikro agar dapat member lebih banyak ruang untuk percepatan pemulihan ekonomi nasional, ” lanjut Jemmy.  Selain pelonggaran, untuk mengatasi persoalan industri ini, Jemmy juga menandaskan pentingnya invoasi agar IKM lebih mudah dijangkau oleh masyarakat.

“Solusinya bisa dilakukan melalui pemberdayaan dan digitalisasi IKM melalui sinergi antara pemerintah, lembaga perbankan, dan para pelaku industri,” kata Jemmy seraya menggarisbawahi berbagai manfaatnya.

Bagi pemerintah, melalui digitalisasi IKM ini, mereka berkesempatan untuk membantu secara signifikan dalam memberdayakan ekonomi masyarakat, dalam kemudahan pemberian modal kerja yang terkontrol, serta dalam meningkatkan kepatuhan terhadap perpajakan.

Bagi industri, digitalisasi sangat membantu penyerapan hasil produksi dalam negeri dan untuk peningkatan daya saing produk TPT Indonesia di luar negeri. Sementara bagi perbankan, melalui digitalisasi ini, mereka juga bisa memberikan modal kerja yang tepat sasaran sekaligus menjadikan IKM menjadi bankable, sehingga bisa melepaskan IKM dari jerat rentenir.

Selain melalui program digitalisasi, menurut Jemmy, program pemberdayaan juga bisa dilakukan melalui optimalisasi penggunaan non-tariff measures (NTMs). Atas permasalahan yang ada, berharap pemerintah bisa memberikan bantuan kebijakan melalui skema pembiayaan perbankan, kelonggaran-kelonggaran dan insentif yang diperlukan sebagai stimulus untuk mendorong pemulihan dan utilisasi industri TPT.

[ad_2]

Sumber Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *